IKLAN TRADE FOREX ... HOT FOREX ..

HotForex Gold & Silver

Friday, 22 November 2013

Inilah Bukti Kesesatan Syi'ah









http://inilah-bukti-kesesatan-syiah.blogspot.com/

http://www.gensyiah.com/

Kesesatan syiah : 17 Perbedaan Mendasar Syi’ah Dengan Ahlussunnah

pada 13hb Mac 2013 pukul 4.27 pagi
  

Banyak orang yang menyangka bahwa perbedaan antara Ahlussunnah Waljamaah dengan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah(Ja’fariyah) dianggap sekedar dalam masalah khilafiyah Furu’iyah, seperti perbedaan antara NU dengan Muhammadiyah, antara Madzhab Syafi’i dengan Madzhab Maliki.
Karenanya dengan adanya ribut-ribut masalah Sunni dengan Syiah, mereka berpendapat agar perbedaan pendapat tersebut tidak perlu dibesar-besarkan. Selanjutnya mereka berharap, apabila antara NU dengan Muhammadiyah sekarang bisa diadakan pendekatan-pendekatan demi Ukhuwah Islamiyah, lalu mengapa antara Syiah dan Sunni tidak dilakukan?.

Oleh karena itu, disaat Muslimin bangun melawan serangan Syiah, mereka menjadi penonton dan tidak ikut berkiprah.
Apa yang mereka harapkan tersebut, tidak lain dikarenakan minimnya pengetahuan mereka mengenai aqidah Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah(Ja’fariyah). Sehingga apa yang mereka sampaikan hanya terbatas pada apa yang mereka ketahui.
Semua itu dikarenakan kurangnya informasi pada mereka, akan hakikat ajaran Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah). Disamping kebiasaan berkomentar, sebelum memahami persoalan yang sebenarnya.
Sedangkan apa yang mereka kuasai, hanya bersumber dari tokoh-tokoh Syiah yang sering berkata bahwa perbedaan Sunni dengan Syiah seperti perbedaan antara Madzhab Maliki dengan Madzhab Syafi’i.
Padahal perbedaan antara Madzhab Maliki dengan Madzhab Syafi’i, hanya dalam masalah Furu’iyah saja. Sedang perbedaan antara Ahlussunnah Waljamaah dengan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah), maka perbedaan-perbedaannya disamping dalam Furuu’ juga dalam Ushuul.
Rukun Iman mereka berbeda dengan rukun Iman kita, rukun Islamnya juga berbeda, begitu pula kitab-kitab hadistnya juga berbeda, bahkan sesuai pengakuan sebagian besar ulama-ulama Syiah, bahwa Al-Qur’an mereka juga berbeda dengan Al-Qur’an kita (Ahlussunnah).
Apabila ada dari ulama mereka yang pura-pura (taqiyah) mengatakan bahwa Al-Qur’annya sama, maka dalam menafsirkan ayat-ayatnya sangat berbeda dan berlainan.
Sehingga tepatlah apabila ulama-ulama Ahlussunnah Waljamaah mengatakan : Bahwa Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah) adalah satu agama tersendiri.
Melihat pentingnya persoalan tersebut, maka di bawah ini kami nukilkan sebagian dari perbedaan antara aqidah Ahlussunnah Waljamaah dengan aqidah Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah)



1. Rukun Islam
Rukun Islam Ahlussunnah kita ada 5:
  1. Syahadatain
  2. As-Sholah
  3. As-Shoum
  4. Az-Zakah
  5. Al-Haj
Rukun Islam Syiah juga ada 5 tapi berbeda:
  1. As-Sholah
  2. As-Shoum
  3. Az-Zakah
  4. Al-Haj
  5. Al wilayah

2. Rukun Iman
Rukun Iman Ahlussunnah ada enam:
  1. Iman kepada Allah
  2. Iman kepada Malaikat-malaikat Nya
  3. Iman kepada Kitab-kitab Nya
  4. Iman kepada Rasul Nya
  5. Iman kepada Yaumil Akhir / hari kiamat
  6. Iman kepada Qadar, baik-buruknya dari Allah.
Rukun Iman Syiah ada 5 :
  1. At-Tauhid
  2. An Nubuwwah
  3. Al Imamah
  4. Al Adlu
  5. Al Ma’ad

3. Syahadat
Ahlussunnah mempunyai Dua kalimat syahada, yakni: “Asyhadu An La Ilaha Illallah wa Asyhadu Anna Muhammadan Rasulullah”.
Syiah mempunyai tiga kalimat syahadat, disamping “Asyhadu an Laailaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah”, masih ditambah dengan menyebut dua belas imam-imam mereka.

4. Imamah 
Ahlussunnah meyakini bahwa para imam tidak termasuk rukun iman. Adapun jumlah imam-imam Ahlussunnah tidak terbatas. Selalu timbul imam-imam, sampai hari kiamat.Karenanya membatasi imam-imam hanya dua belas (12) atau jumlah tertentu, tidak dibenarkan.
Syiah meyakini dua belas imam-imam mereka, dan termasuk rukun iman. Karenanya orang-orang yang tidak beriman kepada dua belas imam-imam mereka (seperti orang-orang Sunni), maka menurut ajaran Syiah dianggap kafir dan akan masuk neraka.

5. Khulafaur Rasyidin 
Ahlussunnah mengakui kepemimpinan khulafaurrosyidin adalah sah. Mereka adalah: a) Abu Bakar, b) Umar, c) Utsman, d) Ali radhiallahu anhum
Syiah tidak mengakui kepemimpinan tiga Khalifah pertama (Abu Bakar, Umar, Utsman), karena dianggap telah merampas kekhalifahan Ali bin Abi Thalib (padahal Imam Ali sendiri membai’at dan mengakui kekhalifahan mereka).

6. Kemaksuman Para Imam
Ahlussunnah berpendapat khalifah (imam) adalah manusia biasa, yang tidak mempunyai sifat Ma’shum. Mereka dapat saja berbuat salah, dosa dan lupa, karena sifat ma’shum, hanya dimiliki oleh para Nabi. Sedangkan kalangan syiah meyakini bahwa 12 imam mereka mempunyai sifat maksum dan bebas dari dosa.

7. Para Sahabat
Ahlussunnah melarang mencaci-maki para sahabat. Sedangkan Syiah mengangggap bahwa mencaci-maki para sahabat tidak apa-apa, bahkan berkeyakinan, bahwa para sahabat setelah Rasulullah SAW wafat, mereka menjadi murtad dan tinggal beberapa orang saja. Alasannya karena para sahabat membai’at  Sayyidina Abu Bakar sebagai Khalifah.

8. Sayyidah Aisyah 
Sayyidah Aisyah istri Rasulullah sangat dihormati dan dicintai oleh Ahlussunnah. Beliau adalah termasuk ummahatul Mu’minin. Syiah melaknat dan  mencaci maki Sayyidah Aisyah, memfitnah bahkan mengkafirkan beliau.

9. Kitab-kitab hadits
Kitab-kitab hadits yang dipakai sandaran dan rujukan Ahlussunnah adalah Kutubussittah : Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abi Dawud, Sunan At-Tirmidz, Sunan Ibnu Majah dan Sunan An-Nasa’i. (kitab-kitab tersebut beredar dimana-mana dan dibaca oleh kaum Muslimin sedunia).
Kitab-kitab hadits Syiah hanya ada empat : a) Al Kaafi, b) Al Istibshor, c) Man Laa Yah Dhuruhu Al Faqih, dan d) Att Tahdziib. (Kitab-kitab tersebut tidak beredar, sebab kebohongannya takut diketahui oleh pengikut-pengikut Syiah).

10. Al-Quran
Menurut Ahlussunnah Al-Qur’an tetap orisinil dan tidak pernah berubah atau diubah. Sedangkan syiah menganggap bahwa Al-Quran yang ada sekarang ini tidak orisinil. Sudah dirubah oleh para sahabat (dikurangi dan ditambah).

11. Surga
Surga diperuntukkan bagi orang-orang yang taat kepada Allah dan Rasul Nya. dan Neraka diperuntukkan bagi orang-orang yang tidak taat kepada Allah dan Rasul Nya. Menurut Syiah, surga hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang cinta kepada Imam Ali, walaupun orang tersebut tidak taat kepada Rasulullah. Dan neraka diperuntukkan bagi orang-orang yang memusuhi Imam Ali, walaupun orang tersebut taat kepada Rasulullah.

12. Raj’ah
Aqidah raj’ah tidak ada dalam ajaran Ahlussunnah. Raj’ah ialah besok di akhir zaman sebelum kiamat, manusia akan hidup kembali. Dimana saat itu Ahlul Bait akan balas dendam kepada musuh-musuhnya.
Raj’ah adalah salah satu aqidah Syiah, dimana diceritakan bahwa nanti diakhir zaman, Imam Mahdi akan keluar dari persembunyiannya. Kemudian dia pergi ke Madinah untuk membangunkan Rasulullah, Imam Ali, Siti Fatimah serta Ahlul Bait yang lain. Setelah mereka semuanya bai’at kepadanya, diapun selanjutnya membangunkan Abu Bakar, Umar, Aisyah. Kemudian ketiga orang tersebut disiksa dan disalib, sampai mati seterusnya diulang-ulang sampai  ribuan kali, sebagai balasan atas perbuatan jahat mereka kepada Ahlul Bait.
Orang Syiah mempunyai Imam Mahdi sendiri, yang berlainan dengan Imam Mahdi yang diyakini oleh Ahlussunnah, yang akan membawa keadilan dan kedamaian.

13. Mut’ah
Mut’ah (kawin kontrak), sama dengan perbuatan zina dan hukumnya haram. Sementara Syiah sangat dianjurkan mut’ah dan hukumnya halal. Halalnya Mut’ah ini dipakai oleh golongan Syiah untuk mempengaruhi para pemuda agar masuk Syiah. Padahal haramnya Mut’ah juga berlaku di zaman Khalifah Ali bin Abi Thalib.

14. Khamr 
Khamer (arak) najis menurut Ahlussunnah. Menurut Syiah, khamer itu suci.

15. Air Bekas Istinjak
Air yang telah dipakai istinja’ (cebok) dianggap tidak suci, menurut ahlussunnah (sesuai dengan perincian yang ada). Menurut Syiah air yang telah dipakai istinja’ (cebok) dianggap suci dan mensucikan.

16. Sendekap
Diwaktu shalat meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri hukumnya sunnah. Menurut Syiah meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri sewaktu shalat dapat membatalkan shalat. (jadi shalatnya bangsa Indonesia yang diajarkan Wali Songo oleh orang-orang Syiah dihukum tidak sah dan batal, sebab meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri).

17. Amin Sesudah Fatihah 
Mengucapkan Amin diakhir surat Al-Fatihah dalam shalat adalah sunnah. Menurut Syiah mengucapkan Amin diakhir surat Al-Fatihah dalam shalat dianggap tidak sah dan batal shalatnya. (Jadi shalatnya Muslimin di seluruh dunia dianggap tidak sah, karena mengucapkan Amin dalam shalatnya).

Demikian telah kami nukilkan beberapa perbedaan antara aqidah Ahlussunnah Waljamaah dan aqidah Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah). Harapan kami semoga pembaca dapat memahami benar-benar perbedaan-perbedaan tersebut. Selanjutnya pembaca yang mengambil keputusan (sikap). Masihkah mereka akan dipertahankan sebaga Muslimin dan Mukminin ? (walaupun dengan Muslimin berbeda segalanya).

Sebenarnya yang terpenting dari keterangan-keterangan diatas adalah agar masyarakat memahami benar-benar, bahwa perbedaan yang ada antara Ahlussunnah dengan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah) itu, disamping dalam Furuu’ (cabang-cabang agama) juga dalam Ushuul (pokok/ dasar agama).

Apabila tokoh-tokoh Syiah sering mengaburkan perbedaan-perbedaan tersebut, serta memberikan keterangan yang tidak sebenarnya, maka hal tersebut dapat kita maklumi, sebab mereka itu sudah memahami benar-benar, bahwa Muslimin Indonesia tidak akan terpengaruh atau tertarik pada Syiah, terkecuali apabila disesatkan (ditipu). Oleh karena itu, sebagian besar orang-orang yang masuk Syiah adalah orang-orang yang tersesat, yang tertipu oleh bujuk rayu tokoh-tokoh Syiah.
Akhirnya, setelah kami menyampaikan perbedaan-perbedaan antara Ahlussunnah dengan Syiah, maka dalam kesempatan ini kami menghimbau kepada Alim Ulama serta para tokoh masyarakat, untuk selalu memberikan penerangan kepada umat Islam mengenai kesesatan ajaran Syiah.

Begitu pula untuk selalu menggalang persatuan sesama Ahlussunnah dalam menghadapi rongrongan yang datangnya dari golongan Syiah. Serta lebih waspada dalam memantau gerakan Syiah didaerahnya. Sehingga bahaya yang selalu mengancam persatuan dan kesatuan bangsa kita dapat teratasi.
Selanjutnya kami mengharap dari aparat pemerintahan untuk lebih peka dalam menangani masalah Syiah di Indonesia. Sebab bagaimanapun, kita tidak menghendaki apa yang sudah mereka lakukan, baik di dalam negri maupun di luar negri, terulang di negara kita. Semoga Allah selalu melindungi kita dari penyesatan orang-orang Syiah dan aqidahnya. Amin.

SEMOGA BER MANFA'AT.......... AMIN.....YRA................... 5u4r4 4ryo 5uryo Hr.......

Pandangan Haron Din Berkenaan “Zikir Sambil Menari”

Tuan Guru Dato’ Dr. Haron Din
Tuan Guru Dato’ Dr. Haron Din
Kadang-kadang ada yang memberi jawapan tentang sesuatu hukum itu mengikut ‘rasa’, seperti soalan anda tentang hukum menari yang diamalkan oleh puak sufi seperti di atas, penjawab itu berkata rasanya tidak boleh. Mungkin juga ada orang lain yang akan menjawab rasanya boleh.
Jawapan bagi persoalan agama bukan boleh dimain dengan ‘rasa’. Ia memerlukan sandaran hukum yang perlu dirujuk kepada sumber yang sahih.

Berkenaan dengan zikrullah, Allah SWT berfirman (mafhumnya): “Iaitu orang-orang yang menyebut dan mengingati Allah semasa mereka berdiri dan duduk dan semasa mereka berbaring mengiring, dan mereka pula memikirkan tentang kejadian langit dan bumi (sambil berkata): ‘Wahai Tuhan kami! Tidaklah Engkau menjadikan benda-benda ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari azab neraka.” (Surah ‘Ali-’Imran ayat 191).
Ayat ini memberi isyarat bahawa zikrullah boleh dilakukan dalam pelbagai keadaan dan gaya.
Ummul Mukminin Aisyah r.ha. pernah melaporkan bahawa Rasulullah SAW berzikrullah (berzikir kepada Allah) dalam semua keadaan. Sedang berjalan, menaiki kenderaan, di atas kenderaan, berbaring, duduk dan bermacam lagi pernah dilaksanakan oleh Rasulullah SAW.
Dalam satu riwayat pernah diceritakan bahawa Jaafar bin Abi Talib r.a (sepupu Rasulullah), pernah menari-nari melenggok lentuk di hadapan Rasullullah SAW sebaik sahaja beliau mendengar Rasulullah SAW menyebut kepada beliau, “Allah menjadikan rupa parasmu seiras dengan Allah menciptakan daku.”
Mendengar kata-kata yang seindah dan semurni itu, terus ditakbirkan dengan menari-nari di hadapan Rasullullah SAW. Tingkah laku beliau itu atau ‘body language’ beliau tidak ditegah atau ditegur oleh Rasulullah SAW.
Di sinilah dikatakan atau dijadikan asal usul sandaran bahawa menari-nari sambil berzikir kepada Allah yang dilakukan oleh ahli tarikat atau golongan sufiyah, ada sandarannya.
Sahlah berlaku tarian di majlis zikir yang dihadiri oleh ulama besar yang muktabar. Antara mereka ialah al-Imam Izzuddin Abdus Salam dan tidak diengkarinya.
Ditanya Shaikhul Islam Sirajuddin al-Balqini tentang persoalan tari- menari dalam majlis zikir, lalu dijawab beliau dengan mengiyakannya, yakni boleh dilakukan.
Ditanya al-Allamah Burhanuddin al-Abnasi, perkara yang sama, maka beliau menjawab dengan membolehkannya.
Ditanya ulama besar dalam mazhab Hanafi dan Maliki, semuanya menjawab, “Tidak mengapa dan boleh dilakukan.”
Semua jawapan ini dibuat dengan bersandarkan kepada ayat dalam Surah ‘Ali-’Imran di atas berserta hadis yang diriwayatkan oleh Jaafar bin Abi Talib r.a. Adapun tarian yang dilarang adalah tarian yang bercampur lelaki perempuan yang bukan mahram, lebih-lebih lagi ia diadakan dalam majlis yang kemaksiatannya ketara seperti berpakaian tidak menutup aurat, diiringi dengan muzik dan suasana yang mengundang kepada syahwat dan lain-lain.
Itulah yang disebut haram. Haram bukan soal tarian, tetapi dilihat dari aspek persembahan, suasana dan dilihat dengan jelas kemaksiatan. Adapun tarian dalam zikrullah, adalah tarian khusus yang lahir daripada rasa kesyahduan kepada Allah, dengan kelazatan munajat dan bertaladdud (berseronok kerana zikrullah).
Perasaan seronok dan lazat itu yang diketahui oleh orang yang mengetahuinya, merupakan anugerah Allah kepada mereka. Mereka hendak menunjukkan bahasa badan (body language) mereka dengan menari-nari tanda keseronokan, tetapi dibuat kerana Allah SWT. Atas itulah pada pendapat saya bahawa tarian dalam majlis-majlis sufi itu adalah harus.
Untuk menyatakan haram atau tidak boleh memang mudah, tetapi harus disandarkan kepada dalil. Jika tidak ada dalil atau hujah, berbaliklah kepada hukum feqah bahawa, “Asal semua perkara adalah harus sehingga ada dalil yang membuktikannya haram.”
Oleh itu berzikrullah yang difahami dari ayat al-Quran di atas, hadis Rasulullah SAW dan pandangan ulama muktabar, maka saya menyatakan ia harus dan bukanlah haram.
Wallahu ta’ala a’lam.

Hukum Rawatan menggunakan jampi mantera dan serapah


Soalan
Ada bomoh di tempat saya mengubati pesakit atau yang berhajat sesuatu, ditolongi dengan jampi mantera menggunakan bahasa Jawa. Saya orang Jawa asli yang tinggal di Pant Jawa, tetapi saya sendiri tidak faham apa dibaca dukun tersebut. Apakah pengubatan secara ini boleh diterima pakai dan tidak mendatangkan sesuatu yang berlawanan dengan syarak?
MOHAMMAD BIN JUSOH
Pant Jawa, Johor
Jawapan Tuan Guru Dato’ Dr. Haron Din;
Mengubati penyakit atau menolong seseorang yang memerlukan pertolongan sehingga ter­tunai hajatnya, lebih-lebih lagi boleh membantu meng­ikhtiarkan kesembuhan pesakit yang bermasalah adalah pekerjaan mulia. Ia menjadi lebih mulia jika dilakukannya semata-mata kerana Allah SWT, meng­harapkan pahala pada hari akhirat dan tidak membe­bankan pesakit.

Amalan perubatan de­ngan menggunakan doa ataupun bacaan ayat memang salah satu daripada cabang rawatan yang dia­kui syarak sebagai amalan mulia. Pergi ke hospital atau menemui perawat pakar juga digalakkan Islam, kerana itu juga salah satu daripada cabang rawatan yang disebut oleh Rasulullah s.a.w. dalam hadis yang banyak.
Merujuk khusus kepada persoalan saudara iaitu soal jampi. Menjampi pesakit disebut dalam bahasa Arab se­bagai ruqyah. Ruqyah adalah dibenarkan. Malah kadang-­kadang amat digalakkan.
Rasulullah s.a.w. pernah sakit, suatu ketika Jibril diturunkan untuk memberi tawaran menjampikan baginda, lalu Jibril menjampi Nabi. Ianya disebut sebagai Ruqyatu Jibril.
Adapun menjampi seseo­rang itu dengan menggu­nakan bahasa khusus seperti Jawa, atau bahasa Mendiling, Inggeris dan Sepanyol diha­ruskan syarak dengan syarat, bacaan itu diketahui makna­nya dan ia tidak ada sebarang petanda kesyirikan terhadap Allah SWT. Jangan ada sebarang taf­siran yang boleh membawa syirik.
Oleh yang demikian jika lirik, seni kata atau bacaan yang disebut oleh dukun itu tidak diketahui maknanya, jika seperti saudara seorang berketurunan Jawa tidak memahami jampi yang dibaca dalam bahasa Jawa. Tetapi mungkin seperti disebut orang bahawa Jawa ada dua bahasa, iaitu bahasa kasar dan bahasa halus. Biasanya bahasa Jawa halus jarang diketahui orang.
Saya sendiri sememang­nya tidak memahami bahasa Jawa sama ada kasar ataupun halus. Sekiranya anda tidak faham bahasa tersebut, tetapi orang yang membacanya faham dan makna bacaan itu tidak ada sebarang petanda menuju kepada syirik, maka dia boleh berbuat demikian.
Tetapi jika dukun itu sendiri tidak faham dan tidak tahu apa yang diminta, maka tidak boleh digunakan perubatan dengan bahasa tersebut.
Daripada ayat al-Quran, Allah berfirman (mafhum­nya) : “Dan Kani turunkan
dengan beransur-ansur dari al-Quran, ayat-ayat suci yang menjadi ubat penawar dan rahmat kepadanya; dan al­-Quran tidak menambah kepada orang-orang yang zalim melainkan kerugian jua.” (Surah al-Isra’ , ayat 82)
Ada enam kali sebutan syifa’ atau kesembuhan dalam al-Quran. Ada begitu banyak hadis yang menyebutkan tentang kesembuhan penyakit melalui rawatan pembacaan ayat-ayat al-Quran dan doa.
Oleh itu maka ulama ber­sependapat (ijmak), bahawa mengikhtiarkan kesembuhan penyakit dengan menggu­nakan kaedah bacaan dan doa serta air adalah diharus­kan, kadang-kadang digalak­kan, sekiranya memenuhi tiga syarat yang utama iaitu:
Pertama, menggunakan pembacaan ayat-ayat al-Qur­an dan as-Sunnah atau ruq­yah dalam bahasa Arab yang diketahui maknanya tidak bertentangan dengan syarak.
Kedua, boleh mengguna­kan bacaan selain daripada yang pertama, dengan apa jua bahasa, tetapi mestilah difahami maknanya dan tidak ada sebarang percang­gahan dengan syarak.
Ketiga, hendaklah yang merawat mengiktikadkan bahawa penyembuh sebe­narnya adalah Allah SWT sahaja. Pengubat hanyalah berikhtiar.
Oleh itu saya suka menje­laskan, jika sudah ternyata al-­Quranlah bacaan utama sebagai penawar terbaik, as-Sunnah (al-Hadis) adalah yang terbaik selain al-Quran, maka mengapakah kita tidak menggunakan bacaan ini sebagai rawatan?
Kita harus membebaskan diri daripada yang kurang baik, lebih-lebih lagi jika ia boleh membawa kepada kesyirikan kepada Allah SWT.
WalLah hu a’lam.
(Petikan dari Harakah Bil.1336)

Benarkah Manusia Boleh Masuki Alam Jin?

Oleh: Tuan Guru Dato’ Dr. Haron Din
Gambar Hiasan
Banyak perkara ganjil berlaku. Salah satu yang ganjil adalah cerita mengenai manusia yang dilarikan jin masuk ke alamnya dan hilang dari alam manusia. Beberapa ketika kemudian orang berkenaan muncul balik dan memberitahu dilarikan jin. Ada orang kampung saya yang hilang, selepas tujuh hari mencarinya, tiba-tiba dia ditemui di belakang rumahnya. Betulkah cerita-cerita sebegini. Harap Dato’ dapat jelaskan.
SUBHAN JAMAL, Kuala Langat
Jawapan
Saya pun banyak mendengar cerita seperti yang saudara sebutkan itu. Boleh dipercayai atau tidak, jawapan saya boleh.
Cerita sebegitu boleh dipercayai. Tetapi ingin saya berpesan, jangan sesekali kita mempercayainya bulat-bulat tanpa diselidiki sehalus-halusnya.
Dunia kita ini didiami oleh banyak makhluk. Manusia, jin, haiwan, unggas-unggas, ikan dan sebagainya. Apabila kita berkongsi tempat tinggal di dunia ini, maka dengan sendirinya kita akan berinteraksi dengan semua makhluk ini.
Kita akan berjumpa, berkawan, bersapa, bermusuh dan sebagainya.

Syaitan (makhluk halus) wujud. Mereka pada umumnya adalah musuh manusia. Makhluk halus boleh menyerupai manusia dengan pelbagai rupa.
Salah satunya mereka boleh menyerupai manusia seperti yang disabitkan dalam Firman Allah SWT dalam al-Quran (mafhumnya): “Dan (ingatlah) ketika syaitan memperhiaskan kepada mereka perbuatan mereka, serta menghasut mereka dengan berkata: “Pada hari ini tidak ada sesiapa pun dari umat manusia yang dapat mengalahkan kamu, dan sesungguhnya aku (syaitan) adalah pelindung dan penolong kamu……..(hingga akhir ayat).” (Surah al-Anfaal, ayat 48)
Kesimpulan daripada ayat ini menurut ahli tafsir, adalah peristiwa dalam Perang Badar, apabila syaitan yang zahir dalam bentuk manusia, dikenali menyerupai Suraqah bin Malik bin Jukshum.
Suraqah (syaitan tadi) bersama dengan bala tenteranya, kononnya mahu menolong kuffar Makkah ketika itu untuk mengalahlan umat Islam.
Akhirnya apabila bertemu kedua-dua pasukan, Suraqah bersama bala tenteranya, lintang pukang cabut lari dari medan peperangan. Rupa-rupanya Suraqah dan tenteranya, bukan Suraqah sebenar yang dikenali oleh puak Musyrikin, ia adalah jelmaan syaitan.
Jelas daripada ayat ini, menunjukkan syaitan (makhluk halus) boleh berubah menjadi makhluk kasar, dan atas perkara yang sama, makhluk kasar (seperti manusia) boleh berubah menjadi makhluk halus. Manusia boleh hilang pada pandangan mata kasar dan berada dalam alam makhluk halus.
Dalam Kitab Gharaib Wa’ajaaibul Jinn karangan Al-Muhadith al-Qadi Badruddin as-Syubli, di halaman 99 ditulis suatu tajuk ‘Hukum ke atas isteri yang suaminya dilarikan jin’.
Diceritakan di dalam bab tersebut, bahawa pada zaman Umar al-Khattab (r.a.) menjadi khalifah, seorang perempuan mengadu kepada Umar tentang kehilangan suaminya (dilarikan jin). Umar bertanyakan wanita tersebut dan membenarkan dakwaannya.
Umar memberi hukum, perempuan itu terpisah dengan suaminya dan hendaklah ber’idah selama 4 tahun. Sesudah genap ber’idah, dia mendatangi Umar sekali lagi untuk meminta kebenaran berkahwin.
Setelah berkahwin dengan suami yang kedua, suami pertama yang hilang dahulu muncul semula dan mereka bersengketa kerana perempuan itu ada dua orang suami.
Mereka mendatangi Umar semula kerana dialah yang membenarkan perempuan itu berkahwin.
Umar berkata kepada suami pertamanya mengapa kamu menghilang diri begitu lama. Lalu lelaki itu menjawab dengan mengatakan beliau mempunyai alasan yang kuat kerana, dia ditawan oleh jin sepanjang masa dia hilang tersebut. Dia akhirnya dibebaskan.
Umar memberikan pilihan kepada suami yang pertama itu iaitu, sama ada hendak bersama dengan isterinya, dia akan memfasahkan perkahwinan kedua, atau dia menceraikan isterinya kerana ada suami yang kedua dan dia berhak mendapat kembali mahar yang dibayarnya semasa berkahwin dahulu.
Kisah ini dengan sendirinya membenarkan cerita bahawa terdapat manusia yang hilang kerana disembunyikan makhluk halus dan boleh kembali semula.
Namun demikian tidak semua cerita seperti ini benar. Kadang-kadang ada orang yang mengambil kesempatan, dia menghilang diri, bukan disorok jin, tetiba muncul semula dengan dakwaan sedemikian.
Tidak mustahil, orang yang mempunyai masalah dirinya, menghilangkan diri daripada orang ramai dengan pergi ke tempat yang jauh, akhirnya pulang dengan masalah-masalah yang tertentu.
Hal sebegini, kes-kes manusia dihilangkan jin jarang berlaku. Ianya kes terpencil, kita patut berhati-hati.
Wallahua’lam.
(Petikan dari Ruangan bersama Ustaz Dr. Haron Din: Harakah Bil.1340)

Thursday, 21 November 2013

Langkah-Langkah Memancutkan Isteri

Langkah-Langkah Memancutkan Isteri

Sebelum dapat menikmati pancutan perempuan, fakta penting yang perlu diketahui tidak semua perempuan dengan mudah mengalami pancutan. Jadi jangan menjadi terlampau kecewa jika isteri anda tidak mengalami pancutan. Secara teorinya semua perempuan mempunyai anatomi biologi yang membolehkannya mengalami pancutan. Ia mungkin menjadi masalah bagi yang mempunyai otot pelvik yang lemah atau perempuan yang sukar untuk membuatkan dirinya berasa santai atau rileks. Jadi ini memerlukan latihan untuk memahirkan teknik ini.

Disyorkan sebelum anda bermula, isteri anda digalakkan untuk membuang air kecil bagi memastikan pancutan yang terjadi bukan dari air kecil.

Langkah 1
Lakukan 'foreplay'.
Anda boleh lakukan mengikut selera anda tetapi pastikan seluruh tubuh isteri anda dapat merasai rangsangan.

Langkah 2
Cuba cari G-spot isteri.
Anda boleh gunakan jari samaada 1 jari atau 2 jari yang telah dilicinkan (anda boleh gunakan 'lubricant'). G-spot terletak disekitar bahagian hadapan di dalam dinding vagina. G-spot mempunyai tekstur yang berbeza berbanding dinding vagina, ia seakan-akan sedikit kasar.

Langkah 3
Setelah anda mendapat G-spot isteri.
Sentuh G-spot dengan menekan, gentel atau usap bahagian itu. Isteri anda mungkin berasa seperti ingin membuang air kecil tetapi jika tadi sudah pun membuangnya kemungkinan besar ia bukan lagi air kencing. Teruskan saja menyentuh G-spot dan jangan berhenti.

Langkah 4
Terus gunakan jari atau 'toy'.
Langkah berikutnya cuba untuk memancutkan isteri. Ini memerlukan anda terus merangsangnya dan juga G-spot. Anda boleh cuba menggunakan 'toy' sebaiknya yang melengkung di hujungnya jika anda mahu. Anda boleh gunakan zakar tetapi untuk praktik adalah lebih baik anda gunakan jari supaya anda dapat melihat tindakbalas isteri. Sekali lagi isteri anda mungkin terasa seperti ingin membuang air kecil. Isteri anda harus melapangkan mindanya dan biarkan rasa seperti ingin membuang air kecil itu dan jangan cuba disekat seperti menahan diri dari membuang air kecil. Kemungkinan pada tahap ini isteri anda mampu mengalami ejakulasi. Anda pula seharusnya terus merangsang isteri dan cuba berkomunikasi dengannya mengenai apa yang sedang isteri rasa dan alami.
Langkah 5
Jika isteri anda berjaya ejakulasi, cecair yang jernih akan terpancut keluar dari farajnya. Ia mungkin banyak (sehingga 1/4 cawan). Jadi adalah lebih baik anda bersedia dengan alas yang mencukupi. Pancutan perempuan bukanlah sesuatu yang mudah untuk dialami. Tetapi jika isteri anda dapat mengawal perasaan takut seperti 'ingin membuang air kecil' ketika itu ia mungkin menjadi pengalaman yang menarik untuk anda berdua. Selamat mencuba.

Catatan Mengenai Ketibaan Nabi Muhammad S.A.W Dalam Kitab-Kitab Agama Lama



Untuk kebanyakan orang, mungkin sesuatu yang sungguh menakjubkan dan hampir sukar dipercayai jika dikatakan yang ramalan mengenai kelahiran Nabi Muhammad (s.a.w.) telah ditemui di dalam beberapa buah kitab suci agama lain.
Kitab-kitab suci ini sepatutnya telah diturunkan, atau ditulis, beberapa ratus tahun sebelum kelahiran Rasullullah s.a.w. Untuk memahami bagaimana ramalan-ramalan sebegini telah dijelaskan di dalam kitab-kitab suci agama lain, seseorang mesti berpegang kepada:
Sejak manusia diturunkan ke Bumi – sejak zaman Nabi Adam a.s. – Allah telah melantik seorang yang salih (righteous) di kalangan umat manusia pada zaman itu sebagai nabi utusanNya, untuk memimpin umat manusia ke jalan kebenaran dan matlamat akhirnya ialah untuk (tunduk) kepadaNya, pada ketika keruntuhan akhlak melanda dan kehidupan mereka tiada hala tuju.
Semua nabi – dari yang pertama hinggalah yang akhir (lebih daripada seratus ribu bilangan mereka, Peace be upon them) telah menyeru ajaran yang sama, iaitu:
- “Tiada tuhan selain Tuhan yang Maha Esa – Maha Pencipta dan Pengekal (Sustainer) seluruh alam semesta dam penghuninya.
- “Tiada tuhan yang patut disembah melainkan Tuhan yang Maha Esa.”
- “Percayalah dan turutilah ajaran utusan (Nabi) pada zaman itu.”
- “Buatlah kebaikan; dan jauhilah kejahatan.”
Kesemua nabi-nabi ini telah meramalkan kedatangan utusan terakhir (akhir zaman
iaitu Nabi Muhammad s.a.w.- kerana perkara ini telah dijelaskan pada mereka oleh Allah s.w.t. Oleh itu, semua kitab suci dari agama-agama lain, mungkin datangnya dari nabi-nabi pada zaman itu, dan secara logiknya mengandungi kisah-kisah ramalan tentang kelahiran Nabi Muhammad s.a.w sebagai rasul terakhir. (akhir zaman)
Kitab-kitab agama Hindu, yang lebih dikenali sebagai Veda, Shastra, Purana dan lain-lain kesemuanya ditulis dalam bahasa Sanskrit. Bahasa ini telah diterima serata dunia sebagai bahasa perantaraan utama. Dalam bahasa Sanskrit, terdapat satu kitab yang dikenali sebagai “Bhavishva Purana.” Kitab ini dikatakan telah ditulis oleh seorang pendeta, Maha Rishi Visayar.
Di dalam tulisan asalnya: (Parvam: 3, Bahagian 3, Bab 3; Rangkap 5-8)
Dalam rangkap tersebut, nama “Muhammad” telah disebut dengan jelas sebagai “Mahaamat” di permulaan ayat yang kedua. Tambahan pula, rangkap tersebut menyatakan dengan jelasnya ramalan berkenaan Nabi Muhammad s.a.w., terjemahannya seperti berikut:
“Seorang ‘Milechar’ (orang asing) akan dating kepadamu sebagai pengajar agama baru, dengan bantuan para sahabatnya. Namanya ialah “Mahaamat.” Seorang raja dari rantau ini akan menyanjungi ajarannya; dan memujinya. Sambil menyucikan dirinya dengan air dari Sungai Ganges dan Panjagouyam, dia akan berkata, “Aku dengan sepenuh hati menurutmu.” Dia, (Mahaamat) terpelihara dari segala dosa. Datangnya dari tanah gurun, dia seorang yang suci. Dia akan menentang kuasa kejahatan. Dia akan mengumpulkan sebilangan pahlawan untuk tujuan itu. Dia akan memberi perlindungan, walaupun kepada musuh-musuhnya.”
“Raja dari rantau ini” yang menyanjungi ajaran Nabi Muhammad s.a.w. – merujuk kepada seorang raja dari Selatan India yang bernama Cheramaan, yang telah menjalinkan hubungan perdagangan dengan orang Arab, dan kemudiannya telah memeluk Islam pada zaman Rasulullah s.a.w.
“Adarva Veda” ialah sebuah kitab Sanskrit yang ditulis sebelum “Bhavishva Purana” lagi. Tidak diketahui kitab Adarva Veda ini telah ditulis berapa ratus tahun sebelum kelahiran Nabi Muhammad s.a.w. Melalui kitab ini, dalam Episod (Kandam) 20, Bab (Sutra) 127 Rangkap (Mantra) 1, 2, 3 telah dinyatakan seperti berikut:
Terjemahannya:
“Wahai umat manusia, dengarlah dan percayailah sepenuhnya: Seorang manusia, yang akan diberi setingi-tinggi pujian, akan muncul di kalangan kamu. Kita akan memberi perlindungan kepadanya daripada 60,090 bilangan musuhnya. Dia dan para sahabatnya akan datang bersama dua puluh ekor unta; debu pasir bekas tapak kaki unta-unta tersebut begitu banyak, sehingga menutupi pemandangan ke ufuk. Dia akan memberikan emas, kuda dan lembu ternakan sebagai hadiah.”
1) “Manusia yang akan diberi setinggi-tinggi pujian” merujuk kepada Nabi Muhammad
s.a.w. Hakikatnya, maksud sebenar perkataan ‘Muhammad’ dalam bahasa Arab ialah
“mendapat pujian”.
2) Tidak diketahui berapa bilangan musuh Nabi Muhammad s.a.w. yang sebenarnya
pada zaman itu; tetapi anggarannya mencecah ribuan orang.
3) Apabila baginda berhijrah dari Mekah ke Madinah, baginda telah menaiki unta.
4) Segala emas, kuda, dan lembu ternakan yang diterima oleh Nabi Muhammad s.a.w.
telah disedekahkan oleh baginda sebagai hadiah kepada fakir miskin dan mereka yang
memerlukan.
Daripada bukti-bukti di atas, jelaslah bahawa rangkap-rangkap dari kitab Adarva Veda telahpun meramalkan ketibaan Nabi Muhammad s.a.w. Di dalam sebuah lagi bab daripada kitab ‘Adarva Veda’ – Bab 1, Rangkap 10 – terjemahannya seperti berikut:
“Allah ialah lengkap. (Perkataan ‘Allah memang telah digunakan di dalam teks Sanskrit yang asli). Seluruh alam semesta adalah milikNya. Mahaamat, (di sini, perkataan ‘Mahaamat’ memang dicatitkan di dalam teks yang asli) yang mengagungkan kewujudan Allah, adalah utusanNya. Ya Tuhan! Ya Tuhan! Tuhan yang menghidupkan sekalian alam, Maha Pencipta dan Pengekal alam semesta. Tiada Tuhan selain Tuhan yang Maha Esa. Saksikanlah Zat Allah Yang Maha Besar!(Behold the magnitude of The Formless God!) Tuhan, yang menjelaskan Adarva Veda mengandungi ‘On Herim’, pencipta sekalian umat manusia, lembu ternakan dan segalanya. Sembahlah Tuhan yang Satu. Mahamat, yang akan memusnahkan kejahatan dengan ‘On Reem’ prayer, ialah utusan Allah. Tiada tuhan selain Tuhan yang Maha Wujud.”
(Allobanished 1:10)
Dalam satu lagi di antara empat Vedas – iaitu Rig Veda – telah dinyatakan bahawa: “Mahamat, yang tulus, berilmu dan berkuasa, akan merestuiku. Dia adalah rahmat kepada seluruh dunia. Dia dimuliakan oleh sepuluh ribu orang.”
(Dalam Al-Quran, Nabi Muhammad s.a.w. dirujuk dengan nama “Rahmatun-Lil-Aalamin.” Ia bermaksud “Rahmat kepada seluruh dunia” – ayat yang sama dengan rangkap di atas. Seterusnya, sepuluh ribu orang merujuk kepada sepuluh ribu orang para sahabat Nabi Muhammad s.a.w. yang bersama-sama baginda sewaktu baginda menawan kota Mekah.
Dalam kitab Veda yang sama – satu di antara empat Veda pegangan penganut agama Hindu – telah meramalkan:
“Seorang lelaki bernama Mamma (Muhammad) akan beroleh kejayaan dengan sepuluh ribu orang pengikutnya.” Dalam kitab Bible, dalam Deutronomy, juga menyebut tentang kejayaan Nabi bersama sepuluh ribu orang pengikutnya seperti berikut:
“…………………bercahaya datangnya dari Gunung Paran bersama sepuluh ribu orang pengikutnya……………………..”
(Deuts 33:2)
Agama Farsi (agama yang telah diamalkan penduduk Iran sebelum kedatangan Islam) adalah salah satu agama yang tertua di dunia. Kitab-kitabnya dikenali sebagai “Dasatir” dan “Jant Avasthe.”
Dalam kitab ‘Dasatir’, di dalam rangkapnya yang ke-14, telah dinyatakan undang-undang pentadbiran yang berlandaskan prinsip-prinsip Islam.
Dalam rangkap-rangkap tersebut, ramalan mengenai Nabi Muhammad s.a.w. telah dijelaskan dengan begitu nyata. Ia menyatakan:
Terjemahannya:
“Apabila akhlak orang Farsi terjerumus mengalami keruntuhan yang sangat hebat, seorang lelaki akan muncul dari tanah Arab. Barangsiapa yang mengikut ajarannya akan dapat menjatuhkan takhta kerajaan Parsi, agamanya dan segalanya. Kekuasaan tanah Farsi akan dimiliki oleh mereka.
Patung-patung berhala yang disembah di dalam Kaaba, yang telah dibina dan dipuja oleh nenek moyang mereka akan dihapuskan. Akan tetapi, manusia akan menyanjung tinggi Kaabah yang telah dikosongkan itu. Das dan Bulk (dua buah bandar besar di Farsi pada waktu itu) akan ditawan. Para bijaksana dan orang Farsi yang lain, akan turut bersama pengikutnya (Nabi Muhammad s.a.w.). Kitab lama Farsi ini masih boleh ditemui di Iran pada masa kini.
Oleh sebab kejahilan tentang konsep sebenar ajaran agama Buddha, kebanyakan
penganut agama ini mempercayai bahawa ajaran ini tidak merangkumi kepercayaan kepada Tuhan! Akan tetapi, banyak hasil jumpaan arkeologi telah membuktikan sebaliknya- Buddha sememangnya MENEKANKAN kepercayaan terhadap Tuhan yang Satu, dan dia telah meramalkan kedatangan Nabi Muhammad (s.a.w.). Seorang cendekiawan yang terkenal, Arthur Lily, mengatakan yang petikan berikut telah dicatit di atas sebiji batu bersurat sebagai kata-kata Buddha sendiri:-
“Percayalah pada Tuhan dan lakukanlah segala perbuatan yang wajar dilakukan, sebagaimana diperintahkan olehNya; kerana Dialah Satu-satuNya, yang wajar disembah dan dihadapkan dengan kedaifanmu. Aku mengisytiharkan secara terbuka bahawa tiada jalan lain yang boleh menyamai kepercayaan ini (tentang Tuhan yang Satu) untuk merasai kenikmatan Syurga. Jadi, para pengikutku, berusahalah dengan bersungguh-sungguh, untuk mencapai matlamat yang tertinggi ini.”
(Petikan dari buku “India in Primitive Christianity”- muka 85)
Buddha mungkin ialah salah seorang daripada para nabi; dan dia juga telah meramalkan kedatangan Nabi Muhammad (s.a.w.).
“Thikanikaya” merupakan salah sebuah daripada kitab agama Buddha. Di dalamnya ada menyatakan bahawa “Maitriya” akhirnya akan muncul.
(Perkataan ‘Maiteiya’ – atau ‘Metteya’ di dalam Bahasa Bali dan semua perkataan daripada bahasa Burma, Cina Tibet, atau Jepun – membawa makna yang serupa; yang sama maksudnya dengan perkataan “Rahmat” di dalam Bahasa Arab, yang bermaksud “Diberkati”. Nabi Muhammad (s.a.w.) telah digelar oleh Allah S.W.T sendiri sebagai “Rahmath-Lil-Aalameen” – (Rahmat bagi seluruh dunia).
Telah dinyatakan di dalam buku “Arshagyanam” (mukasurat 282), yang Buddha telah berkata,
“Semua manusia mesti mempercayai ‘Maitriya’ itu, iaitu nabi yang akan datang.”
Bagi agama Kristian pula – di dalam kitab Injil – pada ‘Song of Solomon’ 5:16 ada dinyatakan seperti berikut (di dalam bahasa Ibrani yang asal).
“Hikko Manittadim Vikkulu Mahamadim Zahyudi Vezeur Raai Benute Yafus Halam.”
Terjemahannya berbunyi:
“Tutur katanya amatlah berlemah lembut (Ajarannya amatlah berlemah lembut). Dialah Muhammad. Dialah kesayanganku; dialah sahabatku. Wahai orang-orang Jerusalam, aku amat kasih kepadanya.”
(Dari Kitab Injil dalam bahasa lain)
Di dalam lagu tersebut dalam bahasa Ibrani, perkataan Mahamad telah dinyatakan dengan jelasnya. Dua huruf terakhir- ‘im’, yang terdapat bersama-sama perkataan itu digunakan sebagai tanda hormat di dalam bahasa Ibrani. Orang-orang Yahudi masih menyanyikan him ini pada hari ini; tetapi hanya pada upacara tertentu; tanpa benar-benar memahami apa yang mereka lafazkan. (Di dalam kitab Injil dalam bahasa lain – Bahasa Inggeris dan sebagainya, frasa itu telah diterjemahkan sebagai “Dia sangatlah menawan” – perkataan asal Mahammad disingkirkan dan digantikan dengan “sangat menawan”!! – atas sebab-sebab yang hanya diketahui oleh para penterjemahnya sahaja.
Juga di dalam Deutronomy 18:18, telah menyatakan yang Tuhan berfirman kepada Nabi Musa:
“Aku akan jadikan seorang Nabi dari kalangan mereka sendiri, seperti kau juga, dan akan Aku turunkan perintahKu melaluinya, dan dia akan menyampaikan kepada mereka semua perintahKu.”
Walaupun para penganut agama Kristian menganggap bahawa ramalan tersebut merujuk kepada Nabi Isa, akan tetapi jika rangkap tersebut dikaji dengan teliti, jelaslah bahawa ia merujuk kepada Nabi Muhammad (s.a.w.).
a) Selain daripada fakta yang Nabi Musa dan Nabi Isa adalah daripada keturunan Yahudi dan kedua-duanya merupakan nabi, tiada persamaan lain di antara mereka.
b) Jika benarlah rangkap tersebut merujuk kepada Nabi Isa oleh sebab di atas, maka boleh juga didakwa yang Nabi Sulaiman, Nabi Ilyasa’(Isaiah Ezekiel), Nabi Daniel, Nabi Hosea, Nabi Malek (Malachi), John The Baptist, juga menepati ciri-ciri dalam rangkap tersebut; oleh kerana kesemua mereka merupakan nabi dari keturunan Yahudi.
Bagaimanapun, Nabi Musa dan Nabi Muhammad (s.a.w.) mempunyai persamaan kerana:
1) Kedua-dua Nabi Musa dan Nabi Muhammad (s.a.w.) telah memulakan perjanjian
yang baru kepada umat di zaman mereka. Nabi Isa tidak membawa sebarang perjanjian baru, tetapi telah diturunkan untuk menegaskan dan menerangkan ajaran yang dibawa oleh Nabi Musa, sebagaimana dikatakan sendiri oleh baginda dalam Matthews 5:17-18:
“Aku datang bukan dengan tujuan untuk menghapuskan ajaran atau para nabi. Aku datang bukan untuk menghapuskan, tapi untuk memenuhi janji.”
2) Kedua-dua Nabi Musa dan Nabi Muhammad mempunyai ibu dan ayah, Nabi Isa
mempunyai ibu, tetapi tiada ayah.
3) Nabi Musa dan Nabi Muhammad (s.a.w.) telah berkahwin dan mempunyai anak. Nabi Isa kekal bujang.
4) Kedua-dua Nabi Musa dan Nabi Muhammad (s.a.w.) wafat atas sebab semulajadi.
Mengikut agama Kristian, Nabi Isa meninggal dunia dengan kejamnya sewaktu
peristiwa salib.
4) Kedua-dua Nabi Musa dan Nabi Muhammad (s.a.w.) akhirnya dapat menerajui
pucuk pimpinan dan kuasa ke atas masyarakat. Mereka merupakan pemimpin
yang diakui oleh para pengikut mereka. Nabi Isa tidak mencapai tahap ini.
Rangkap tersebut juga menyatakan “Dari kalangan mereka sendiri…”
Nabi Ismail dan Nabi Ishak mempunyai ayah yang sama, Nabi Ibrahim a.s.; jadi mereka merupakan adik-beradik. Oleh itu, anak-anak mereka adalah “dari kalangan yang sama. Anak-anak Nabi Ishak berketurunan Yahudi; manakala anak-anak Nabi Ismail – yang berketurunan Arab adalah “dari kalangan yang sama”. Kitab Injil juga mengesahkannya:
“Dan Dia (Ismail) akan tinggal bersama-sama semua dari kalangannya.”
(Genesis 16:12)
“Dan Dia (Ismail) wafat disaksikan semua dari kalangannya.”
(Genesis 25:18)
Keturunan Nabi Ishak mempunyai pertalian darah dengan keturunan Nabi Ismail (orang Arab). Begitu juga Nabi Muhammad (s.a.w.) yang berasal dari keturunan Bani Israel (para pengikut Nabi Musa) kerana Nabi Muhammad (s.a.w.) adalah waris keturunan Nabi Ismail, anak kepada Nabi Ibrahim – menepati apa yang telah diramalkan dalam rangkap tersebut. “……dari kalangannya.”
(Deut 18:18)
Di samping itu, rangkap selanjutnya berbunyi: “…….dan akan Aku turunkan perintahKu melaluinya.” Tiada satu pun ayat Al-Quran merupakan perkataan yang disebut secara langsung oleh Nabi Muhammad (s.a.w.). Ia merupakan wahyu, yang diperdengarkan kepadanya oleh malaikat Jibril dan diulang sepatah demi sepatah. Tiada satu patah pun merupakan kepunyaan baginda. Baginda hanya mengulangi “perintah yang telah diturunkan kepadanya.
Dan Nabi Isa juga mengesahkan hakikat ini, dengan mengatakan:
“Banyak perkara lagi yang perlu aku khabarkan kepada kamu, malah lebih daripada yang kamu sanggup dengarkan. Tetapi apabila dia, Cahaya Kebenaran (Spirit of Truth) tiba; dia akan memimpin kamu semua ke jalan yang benar. Dia tidak akan berkata sendiri, tetapi dia hanya menyampaikan apa yang diperdengarkan kepadanya dan dia akan mengkhabarkan kepadamu apa yang akan tiba.”
(John 16:12, 13)
Oleh itu, Nabi Musa, di dalam Old Testament dan Nabi Isa, di dalam New Testament telah pun meramalkan kelahiran nabi yang terulung akhir zaman – Nabi Muhammmad (s.a.w.).
(Oleh: Dr. Mohamed Amir)

PENDAHULUAN 
Kelahiran Nabi Muhammad sebagai Nabi Akhir Zaman telah terlebih dahulu diramalkan oleh banyak kitab-kitab agama orang-orang lama zaman itu. Kitab-kitab agama itu termasuklah kitab-kitab Vida, Dasatir dan Injil (Bible). Kenyataan-kenyataan tentang ramalan-ramalan di dalam kitab-kitab agama itu lazimnya disebut sebagai “Khabar Gembira . Orang-orang Islam adalah memegang teguh keterangan-keterangan ini. Kenyataan-kenyataan ramalan yang dimaksudkan tersebut adalah sebagai berikut:
KITAB VIDA DAN DASATIR 
Salah sebuah kitab agama Hindu yang terkenal ialah kitab Sama Vida. Dalam perenggan 6 dan 8 penggal 11 kitab tersebut ada menyatakan keterangan deinikian.
“Ahmad (Muhammad) menerima syariat daripada Tuhannya, sedang syariat itu penuh hikmat dan ia (syariat) mengambil cahaya daripada Tuhan sebahagian ia (cahaya) diambil daripada matahari.
Sementara itu pula di dalam kitab Dasatir salah sebuah kitab suci agama Zoroaster (Zoroastrianism) iaitu kitab agama orang-orang Parsi purba ada menyebut seperti berikut:
“Bahawa umat Zoroaster ketika mereka membuang agama mereka, mereka menjadi hina dan lemah, kemudian bangkitlah seorang di Tanah Arab menewaskan pengikutnya (pengikut-pengikut Zoroaster) dan orang-orang Parsi dan menundukkan pula orang-orang Parsi yang sombong. Selepas daripada api dalam kuil-kuil mereka, mereka mengarahkan pula muka mereka ke arah Kaabah Ibrahim yang telah dibersihkan daripada berhala-berhala, ketika itu mereka menjadi pengikut-pengikut bagi Nabi (Muhammad) yang menjadi rahmat bagi seluruh alam, dan menguasai orang-orang Parsi, menakluki Madain, Tus dan Balk iaitu tempat suci bagi orang-orang Zoroaster dan yang berjiran dengan mere ka. Dan Nabi mereka sesungguhnya adalah bijak bercakap, ia bercakap dengan mukjizat-mukjizat. 
Kitab-kitab tersebut adalah merupakan kitab-kitab yang sangat dihormati dan disanjung  tinggi oleh penganut-penganutnya. Ramalan-ramalan dalam kitab-kitab tersebut kemudiannya telah menjadi kenyataan. Nabi Muhammad sebagaimana yang dipaparkan dalam kitab-kitab itu kemudiannya telah lahir, membuka fikiran manusia ke sinaran yang terang benderang.
KITAB TAURAT 
Dalani kitab Taurat Ulangan iaitu kitab suci agama Yahudi fasal 18 Tuhan telah berIirman kepada Nabi
Musa, katanya:
“Bahawa aku (tuhan) akan bangkitkan bagi mereka itu (dan seluruh insan di dunia ini) seorang Nabi dari kalangan saudara mereka (orang-orang Arab) yang seperti engkau (Musa) dan aku akan menjadikan segala flrmanku dalam mulutnya, dan ia pun akan menyatakan kepada mereka segala yang aku pesankan. 
Teranglah dalam ayat ini Tuhan telah menyuruh Nabi Musa supaya beliau menyatakan kepada kaumnya Bani Israel bahawa kelak Tuhan akan mengutuskan seorang Rasul kepada mereka dan seluruh manusia yang bukan daripada keturunan Bani Israel, tetapi daripada bangsa yang bersaudara dengan mereka, iaitu keturunan Nabi Ismail putera Nabi Ibrahim atau ketuninan Arab Muda (al-Arab ul-Musta’ribah). Dan Rasul yang dimaksudkan itu tidak lain tidak bukan ialah Nabi Muhammad. Bagi mencari asal-usul keturunan Arab Muda itu yang dikatakan bersaudara dengan Bani Israel, kajian tentang susur-galur keturunan Nabi Ibrahim perlu sekali dibuat. Mengikut sejarah Nabi Ibrahim mempunyai dua orang putera, selain Nabi Ismail iaitu Nabi Ishak yang mempunyai seorang putera bernama Nabi Yaakub atau Israel. Inilah sebabnya mereka itu dikatakan bersaudara.
KITAB INJIL YAHYA LAMA
Dalam kitab Injil Yahya yang digunakan oleh orang-orang Kristian dahulu atau boleh juga disebut kitab Injil Yahya Lama, fasal 18 ada menyatakan berikut:
“Tetapi aku (Isa) ini mengatakan yang benar kepadamu (pengikut-pengikut Isa) bahawa berfaedahlah bagi kamu jika aku ini pergi, kerana jika aku tiada pergi tiadalah Paraclete itu akan datang kepadamu, tetapi jika aku pergi aku akan men yuruh dia kepadamu. 
Perkataan Paraclete’ ini berasal daripada bahasa Greek Tua iaitu Parakletos’ yang bermakna Penolong’ atau Wakil’ yang boleh juga diertikan sebagai Utusan’ atau Rasul’. Tetapi perkataan ini kemudiannya ditafsirkan oleh padri-padri Kristian sebagai Roh alQudus (The Holy Ghost). Dalam bahasa Greek Tua itu juga terdapat satu perkataan yang hampir sama dengan perkataan itu iaitu Paraklutos’ ertinya Yang Sangat Terpuji’ atau dalam bahasa Arab disebut Ahmad atau Muhammad. Perkataan Paraklutos ini yang sebenamya dicatatkan dalam kitab Injil bahasa Greek Tua, tetapi kemudiannya telah berubah menjadi Paraclete, kerana mungkin kecuaian penyalin-penyalinnya, sebab penyalin-penyalmn itu kebanyakannya terdiri daripada penuntut-penuntut padri yang kurang mahir dalam bahasa itu. Atau mungkmn juga perkataan itu sengaja diubah oleh padri-padn untuk memberi keyakinan kepada penganut-penganut Kristian.
KITAB INJIL YAHYA SEKARANG 
Kitab Injil Yahya yang digunakan oleh gereja-gereja Kristian pada masa ini juga membayangkan tentang kedatangan Nabi Akhir Zaman itu. Dalam fasal 16 ayat 12, 13, 14, 15, 16 dan 17 kitab tersebut Nabi Isa telah menegaskan kepada murid-muridnya, katanya:
“Dart hal hukuman sebab penghulu dunia ini sudah dihukumkan. Maka ada lagi banyak perkara-perkara yang hendak kukatakan kepadamu, tetapi sekarang ini tiada boleh kamu menanggung dia. Melainkan apabila ia pun datang, iaitu Roh Kebenaran, maka ia akan membawa kamu pada jalan segala kebenaran, kerana tiada dengar kelak iaitu akan dikatakannya, dan dikhabarkannya kelak kepadamu perkara-perkara yang akan datang. Maka ia akan memuliakan aku kerana dtambilnya kelak perkaraku lalu dikhabarkannya kepada kamu (manusia kemudian). Barang sesuatu yang ada kepada Bapa (Tuhan Bapa) iaitu semuanya aku punya, itulah sebabnya aku sudah berkata bahawa diambilnya kelak perkaraku lalu dikhabarkannya kepadamu (manusia kemudian). Lagi seketika maka tiada kamu akan memandang aku lagi, kemudian seketika lagi kamu akan memandang aku pula. 
(Injil Yahya 16: 12-17)
Kesimpulan ayat-ayat di atas bolehlah seperti berikut:
“Darihal hukuman sebab penghulu dunia ini sudah dihukumkan. Maka ada lagi banyak perkara yang hendak kukatakan kepadamu, tetapi sekarang ini tiada boleh kamu menanggung dia. Melainkan apabila ia pun datang, iaitu Roh Kebenaran, maka ia akan membawa kamu (manusia kemudian) pada jalan segala kebenaran. Ayat ini menghuraikan bahawa Roh Kebenaran yang dikatakan datang tadi akan melanjutkan kerja-kerja Nabi Isa.
2. “Kerana tiada Ia akan berkata-kata daripada kuasa dirlnya sendiri melainkan barang yang didengrnya kelak iaitu akan dikatakannya, dan dikhabarkannya kelak kepadamu (manusia kemudian) perkara-perkara yang akan datang . Umumnya ayat ini menyatakan yang Roh Kebenaran yang akan muncul itu akan menerangkan kepada seluruh manusia perkara-perkara yang diwahyukan oleh Tuhan terhadapnya (barang yang didengarkan kelak), dan akan menerangkan perkara-perkara yang akan datang seumpamanya tentang Hari Qiamat dan sebagamnya.
3. “Maka Ia akan memuliakan aku kerana diambilnya kelak perkaraku lalu dikhabarkannya kepadamu (manusIa kemudian) . Ayat ini membayangkan bahawa Roh Kebenaran itu akan memberI kemuliaan kepada Nabi Isa kerana ia akan menerima keterangan-keterangan tentangnya daripada Tuhan untuk umatnya sebagai contoh tauladan dan ajaran-aj arannya. Mengikut ajaran-ajaran Kristian sekarang, Nabi Isa adalah penjelmaan Tuhan di muka bumi ini atau Nabi Isa itu adalah Tuhan Anak (The Son of God), sebab itulah ayat Injil di atas menyatakan, “Barang yang ada kepada Bapa (Tuhan Bapa) iaitu semuanya aku punya, itulah sebabnya aku sudah berkata bahawa diambilnya kelak perkaraku lalu dikhabarkannya kepadamu (manusia kemudian) . Ayat ini boleh ditafsirkan bahawa apa yang ada pada Tuhan Bapa (Allah) terdapat juga Tuhan Anak (Isa), dan ini bermakna bahawa ajaran-ajaran Tuhan Bapa (Allah) juga.
4. Lagi seketika maka tiada kamu akan memandang aku lagi, kemudian seketika lagi kamu akan memandang aku pula. Ayat ini membayangkan bahawa Nabi Isa selepas daripada menyatakan kenyataan-kenyataan itu akan lenyap, tetapi kemudian akan menjelma di dunia ini.
Dan kenyataan-kenyataan dan tafsiran-tafsiran di atas menunjukkan dengan jelas bahawa Roh Kebenaran yang dikatakan akan menyambung usaha-usaha Nabi Isa tersebut, tidak salah kalau dikatakan seorang Pesuruh Allah atau Rasulullah, kerana tugas-tugas yang dibayangkannya adalah tugas seorang Rasul. Roh Kebenaran itu tidaklah menyeleweng kalau dikatakan Nabi Muhammad, kerana bayangan-bayangan yang tersebut di dalam ayat tersebut kemudiannya telah menjadi kenyataan apabila Nabi Muhammad lahir. Cuma yang agak berbeza yang juga mungkin boleh menimbulkan salah faham ialah ayat, “Barang sesuatu yang ada kepada Bapa (Tuhan Bapa) iaitu semuanya aku punya, itulah sebabnya aku sudah berkata bahawa diambilnya kelak perkaraku lalu dikhabarkannya kepadamu. Ayat ini harus telah menenima perubahan bagi menyesuaikan dengan konsep tritung gal (trinity) agama Knistian. Huraian ayat ini telah pun dijelaskan di atas.
KITAB INJIL BARNABA 
Kitab Injil Barnaba ini ialah salah sebuah kitab Injil yang telah dibatalkan pengesahannya oleh padri-padri Kristian dalam satu persidangan tidak lama dahulu, kerana isi kitab Injil tersebut tidak jauh perbezaannya dengan kitab suci al-Quran, banyak menyebut atau sekurang-kurangnya membayangkan tentang ketibaan Nabi Muhammad sebagai Nabi Akhir Zaman di antaranya kenyataan-kenyataan dan bayangan-bayangan (Khabar Gembira) tentang ketibaan Nabi Muhammad itu adalah seperti yang disenaraikan di bawah ini:
“Sesungguhnya telah datang Nabi-Nabi semuanya melainkan seorang Rasul yang akan datang sesudahku (Isa) nanti.
2. “Jesus Christ (Isa) berkata, Janganlah bergoncang hati kamu (murid-murid Isa) dan janganlah kamu takut, kerana bukan aku menjadikan kamu, tetapi Tuhan (Allah) yang men] adikan kamu. Adapun tentang diriku sesungguhnya aku datang untuk menyediakan jalan bagi Utusan Tuhan (Rasulullah) yang akan datang membawa kelepasan bagi dunia. Tetapi awas kamu ditipu orang kerana akan datang beberapa banyak Nabi dusta, mereka mengambil perkataanku dan mengaturkan Injilku.
Ketika itu berkata Andraus, “Wahai Guruku, sebutkanlah bagi kami satu tanda supaya kami (manusia kemudian) kenal akan dia. Maka jawab Isa, “Sesungguhnya dia tidak datang pada masa kamu ini tetapi ia akan datang kelak berbilang tahun selepas masa kamu, iaitu di waktu dirosakkan orang Injilku dan hampir tidak didapati lagi tiga puluh orang mukmin (pengikut-pengikut Isa yang tulen). Di waktu itulah Tuhan (Allah) merahmati dunia ini, maka diutus-Nya-lah Rasul-Nya yang tetap, awan putih di atas kepalanya mengenal akan dia salah seorang pilihan Tuhan (Allah) dan dialah yang akan menzahirkan kepada dunia. Dan ia akan datang dengan kekuatan yang besar untuk menewaskan orang-orang jahat dan ia akan menghapuskan penyembahan berhala dari dunia ini.
Sesungguhnya aku menyukai yang demikian, kerana dengan perantaraannya akan diterangkan dan dimuliakan orang akan Tuhan (Allah) dan Ia menyatakan kebenaranku. Dan ia akan menghukum sekalian orang yang berkata bahawa aku orang yang lebih besar daripada manusia (sama dengan Tuhan).
3. Satu rombongan Yahudi telah datang menemui Isa mereka bertanya tentang Nabi yang akan dibangkitkan di akhir zaman nanti. Maka Isa berkata, “Tuhan (Allah) telah menjadikan Nabi di akhir zaman dan telah meletakkan dalam sebuah qandil’ daripada cahaya dan menamakannya Muhammad’. Berkata ia, Wahai Muhammad, sabarlah. Lantaran engkaulah aku jadikan makhluk yang banyak dan aku anugerahkan untuk engkau semuanya. Barangsiapa yang rela kepada engkau maka rela pula kepadanya dan barangsiapa yang marahkan engkau maka aku terlepas daripadanya.
(Injil Barnaba, 97).
4. Bertanya murid-murid (murid-murid Isa), “Wahai Guru. Siapakah gerangannya laki-laki itu yang engkau (Isa) katakan yang akan datang ke alam ini? Menjawab Isa dengan perasaan gembiranya, “Sebenamya itulah “Muhammad Rasulullah . Dia datang ke alam ini untuk berbuat balk di kalangan manusia dengan membawa rahmat yang banyak, seperti mana hujan mencurah bumi yang mengeluarkan buah-buahan sesudah menempuh kemarau panjang. Maka dia merupakan awan putih yang dipenuhi rahmat Tuhan, iaitu rahmat yang dicurahkan Tuhan (Allah) terhadap orang mukmin laksana huj an.
(Injil Bamaba, 163)
5. Nabi Isa berkata kepada murid-muridnya, tatkala manusia memanggil aku Tuhan (Allah) dan Tuhan Anak (Anak Allah) aku tidak ada lagi di dalam alam mi. Tuhan (Allah) mengolok-olokkan manusia di alam ini dengan kematian Yahuda. Mereka beriktikad bahawa akulah yang mati tersalib itu, supaya tidak lagi syaitan mengolok-lokkan aku di hari Qiamat nanti. Aku tetapkan begini selamanya hingga datang “Muhammad Rasulullah . Apabila Muhammad datang terbukalah rahsia tipuan ini bagi mereka yang beriman dengan agama Tuhan (Allah).
(Injil Bamaba, 220: 19 – 20)
6. Dalam Injil Barnaba itu juga Nabi Isa pemah berkata, “Nabi Adam pemah melihat di udara satu tulisan La ilaha illallah wa Muhammad darRasulullah,’ Maka Adam berkata kepada Tuhan (Allah); Aku bersyukur kepada Engkau wahai Tuhanku kerana Engkau telah jadikan aku, dan berilah kepada aku apakah maknanya, “Muhammad dar Rasulullah itu? Tuhan (Allah) menjawab, “Selamat datang engkau wahai hamba-Ku Adam. Sesungguhnya aku katakan kepada engkau adalah mula pertamanya manusia yang aku jadikan dan tulisan yang engkau lihat ini sebenamya itulah anak engkau yang akan datang ke alam ini sesudah beberapa tahun nanti. Dia akan menjadi UtusanKu (Rasul-Ku). Kerananyalah Aku jadikan segalanya. Apabila dia datang kepada alam. Adalah dirinya itu terletak di dalam satu tempat yang indah, kira-kira 60,000 tahun sebelum aku jadikan engkau.
7. Di lembaran laIn kitab Injil Barnaba itu Nabi Isa pemah berkata, “Di waktu Nabi Adam keluar daripada syurga (bersama-sama Hawa) ia nampak tulisan di atas pintu syurga. “La ilaha illalLah wa Muhamma dar Rasulullah. Sebagaimana yang telah dinyatakan di atas tadi ketibaan Nabi Muhammad adalah sebagai mentaksid atau untuk membaiki penyelewengan yang terdapat di dalam agama Nasrani (Knistian) dan juga agama Yahudi, di samping untuk mempenlengkapkan lagi ajaran-ajaran yang diwahyukan kepada Rasul-Rasul yang terdahulu danipadanya sesuai bagi seluruh manusia dan sepanjang zaman. Nabi Muhammad telah membawa agama Islam sebagai agama yang benar, agama yang diredai oleh Allah dan agama yang menyelamatkan manusia daripada ajaran-ajanan agama yang telah menyeleweng daripada asal.

Kisah Malam Pertama Sepasang Suami Isteri



Kisah Malam Pertama Sepasang Suami Isteri | Di malam yang hening , merupakan malam pertama bagi sepasang suami isteri ini, malam penentuan pertarungan hak dan batil…malam yang dinanti2kan oleh sepasang mempelai yang baru hangat diraikan dalam majlis kenduri tengahari tadi.

Alam bagaikan mengerti , hujan rintik-rintik dan sejuk yang nyaman di perkampungan seperti ingin membasahkan kehangatan suami isteri malam ini.

Satu yang mengesankan ialah inilah kali pertama mereka bersua muka , menatap wajah pasangan dengan lebih dekat, menyentuh kulit mulus isteri yang dicintai dan inilah debaran malam pertama bagi mereka.

Sebelum ini , mereka tidak pernah sedekat ini , jika adapun bertemu di hadapan keluargamasing-masing , jika ada pun bertemu bersama kawan-kawan…tidak pernah mereka berjalan beriringan…tidak pernah mereka menjangka bahawa satu perkenalan , satu masa yang singkat terus membawa kepada jinjang pelamin…Alam pernikahan yang begitu asing bagi mereka.

Malam semakin larut….Si suami membasahkan tubuhnya…menyucikan diri , aneh?..bisik isterinya..di malam2 begini yang dingin mengapa perlu membasahkan tubuh?..lebih aneh selepas itu suaminya masuk ke bilik belakang yang kosong…agak lama…sehingga memaksa isterinya mengintip di celahan pintu bilik itu…Alangkah terkejutnya , suaminya seakin mati..kaku dengan gerakan sujud..dan terdengar esakan kecil…umpama merintih.

Dia tahu!, apa yang dilakukan oleh suaminya..dan dia akur…itulah Cinta suaminya yang sejati…dia tidak perlu cemburu dengan cinta itu…ataupun dia pernah berfikir walaupun segunung cintanya pada suaminya…tidak akan sama dengan cinta suaminya di bilik kosong itu..

Dia menunggu….berteleku di atas taburan bunga mawar diatas katil empuk itu.

Si suami keluar dan memandang tepat ke arah isterinya…isterinya menunduk malu..

Isteri : Mengapa awak pilih saya?

Suami : Kerana awak berniqab (memakai purdah)

Isteri : Ramai kan yang berniqab

Suami : Kerana Awak ada Agama

Isteri : Ramai kan yang ada Agama

Suami : Kerana Awak adalah Jodoh ketentuan dari Allah S.W.T

isteri kehabisan soalan…dia tahu jawapan itu tidak ada persoalan lagi.

Suami : Saya jumpa awak yang saya nampak hanya 2 biji mata, saya tak tahu wajah awak dan selepas itu saya terus tidak melihat wajah awak…tetapi saya melihat di rumah awak ..dihadapan ibu bapa awak ..ketika mereka menyaksikan hasrat saya untuk memiliki awak…dan ketika awak membuka niqab…saya tidak perlu tahu selanjutnya wajah awak kerana itu bukan tujuan utama saya memiliki awak.

Isteri : Saya tidak Cantik….

Suami : Baiklah beristerikan perempuan yang berkulit hitam , berbibir tebal…tetapi mempunyai Agama dalam dirinya adalah nikmat yang paling cantik , daripada memiliki isteri yang berkulit mulus , tetapi tiada agama dalam dirinya..tetapi jika cantik dan ada agama itu adalah anugerah Allah kepada saya.Tetapi adakah perempuan sedar ..mereka yang menampakkan kecantikan yang haram mereka dedahkan tetapi akhirnya mereka adalah bahan bakar di neraka kelak…Wana’uzubillah..

Isteri : Saya juga ingin cantik…

Suami : Sayang..kecantikan awak takkan kekal…awak akan dimakan usia..tetapi mahukah awak kekal cantik selamanya?

Isteri: Itu yang saya mahukan…

Suami : Mahukah awak menjadi secantik bidadari…malah lebih dari itu?

Isteri: Perempuan di dunia ini sehabisnya menyolek diri mereka umpama bidadari tetapi adakah mereka berjaya?

Suami : Ada Caranya…malah tidak perlu berhabis ribuan ringgit!

Isteri: Yakah..?, tunjukkan caranya!

Suami : Rasulullah pernah berkata “Wanita di dunia lebih baik daripada bidadari sebagaimana yang zahir lebih baik daripada yang batin.”

Isteri : Saya Kurang faham… dimana alat-alat mekapnya?

Suami : Rasulullah pernah berkata ” Dari Anas bin Malik ra bahwa Rasulullah bersabda :

“Jika perempuan solat lima waktu, berpuasa pada bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan taat kepada suaminya, nescaya ia akan masuk syurga.” (HR. Al-Bazaar).

Isteri : Bagaimana cantiknya saya di dalam syurga nanti?

Suami : Tolong ambilkan Al-Quran atas meja tu dan Tafsir Ibnu Kathir yang kawan awak hadiahkan tu …Awak ada wudukkah?

Isteri : Ada…nanti sekejap..

Suami : Lihat Surah Al-Waqiah , “Sesungguhnya kami akan ciptakan mereka secara langsung “. (ayat 35 ) , Ibn Kathir dalam menafsirkan ayat ini menyatakan bahawa wanita baik mereka itu tua atau tidak mereka akan dibangkitkan dengan ciptaan yang baru . Dalam keadan mereka itu muda dan perawan . Ini dikuatkan lagi dengan ayat yang berikutnya ” dan kami jadikan mereka itu gadis perawan ” (ayat 36)

Subhanallah



http://penpatah.blogspot.com/2013/10/kisah-malam-pertama-sepasang-suami.html