Wednesday, 14 October 2015
Saturday, 5 September 2015
PENGERTIAN HAJI DAN UMRAH

Berhaji& Berumrah– Haji adalah salah satu rukun Islam yang lima. Menunaikan ibadah haji adalah bentuk ritual tahunan bagi kaum muslim yang mampu secara material, fisik, maupun keilmuan dengan berkunjung ke beberapa tempat di Arab Saudi dan melaksanakan beberapa kegiatan pada satu waktu yang telah ditentukan yaitu pada bulan Dzulhijjah.
Secara
estimologi (bahasa), Haji berarti niat (Al Qasdu), sedangkan menurut
syara’ berarti Niat menuju Baitul Haram dengan amal-amal yang khusus.Temat-tempat
tertentu yang dimaksud dalam definisi diatas adalah selain Ka’bah dan
Mas’a (tempat sa’i), juga Padang Arafah (tempat wukuf), Muzdalifah
(tempat mabit), dan Mina (tempat melontar jumroh).
Sedangkan
yang dimaksud dengan waktu tertentu adalah bulan-bulan haji yaitu
dimulai dari Syawal sampai sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Amalan
ibadah tertentu ialah thawaf, sa’i, wukuf, mazbit di Muzdalifah,
melontar jumroh, dan mabit di Mina.
Pengertian Umroh
Umrah
adalah berkunjung ke Ka’bah untuk melakukan serangkaian ibadah dengan
syarat-syarat yang telah ditetapkan. Umroh disunahkan bagi muslim yang
mampu. Umroh dapat dilakukan kapan saja, kecuali pada hari Arafah yaitu
tgl 10 Zulhijah dan hari-hari Tasyrik yaitu tgl 11,12,13 Zulhijah.
Melaksanakan Umroh pada bulan Ramadhan sama nilainya dengan melakukan
Ibadah Haji (Hadits Muslim) [Kembali ke Menu]
Haji Ifrad, artinya menyendiri
Pelaksanaan
ibadah haji disebut ifrad jika sesorang melaksanakan ibadah haji dan
umroh dilaksanakan secara sendiri-sendiri, dengan mendahulukan ibadah
haji. Artinya, ketika calon jamaah haji mengenakan pakaian ihram di
miqat-nya, hanya berniat melaksanakan ibadah haji. Jika ibadah hajinya
sudah selesai, maka orang tersebut mengenakan ihram kembali untuk
melaksanakan ibadah umroh.
Haji Tamattu’, artinya bersenang-senang
Pelaksanaan
ibadah haji disebut Tamattu’ jika seseorang melaksanakan ibadah umroh
dan Haji di bulan haji yang sama dengan mendahulukan ibadah Umroh.
Artinya, ketika seseorang mengenakan pakaian ihram di miqat-nya, hanya
berniat melaksanakan ibadah Umroh. Jika ibadah Umrohnya sudah selesai,
maka orang tersebut mengenakan ihram kembali untuk melaksanakan ibadah
Haji.
Tamattu’
dapat juga berarti melaksanakan ibadah Umroh dan Haji didalam
bulan-bulan serta didalam tahun yang sama, tanpa terlebih dahulu pulang
ke negeri asal.
Haji Qiran, artinya menggabungkan
Pelaksanaan
ibadah Haji disebut Qiran jika seseorang melaksanakan ibadah Haji dan
Umroh disatukan atau menyekaliguskan berihram untuk melaksanakan ibadah
haji dan umrah. Haji Qiran dilakukan dengan tetap berpakaian ihram sejak
miqat makani dan melaksanakan semua rukun dan wajib haji sampai
selesai, meskipun mungkin akan memakan waktu lama. [Kembali ke Menu]
Rukun haji :
- Ihram
- Thawaf Ziyarah (disebut juga dengan Thawaf Ifadhah)
- Sa’ie
- Wuquf di padang Arafah
Apabila
salah satu rukun haji di atas tidak dilaksanakan maka hajinya batal.
Sedangkan Abu Hanifah berpendapat bahwa rukun haji hanya ada 2 yaitu:
Wuquf dan Thawaf. Ihram dan Sa’I tidak dimasukkan ke dalam rukun karena
menurut beliau, ihram adalah syarat sah haji dan sa’I adalah yang wajib
dilakukan dalam haji (wajib haji). Sementara Imam syafi’ie berpendapat
bahwa rukun haji ada 6 yaitu: Ihram, Thawaf, Sa’ie, Wuquf, Mencukur
rambut, dan Tertib berurutan).(Kitabul Fiqh Ala Madzhabil Arba’ah
1/578).
Wajib Haji
- Iharam dimulai dari miqat yang telah ditentukan
- Wuquf di Arafah sampai matahari tenggelam
- Mabit di Mina
- Mabit di Muzdalifah hingga lewat setengah malam
- Melempar jumrah
- Mencukur rambut
- Tawaf Wada
Syarat-syarat Wajib Haji
- Islam
- Berakal
- Baligh
- Mampu
[Kembali ke Menu]
Tidak
boleh bagi seseorang berhaji untuk orang lain kecuali setelah ia
berhaji untuk dirinya sendiri. Rasulullah bersabda: Berhajilah untuk
dirimu sendiri, kemudian engkau berhaji untuknya. [Kembali ke Menu]
Tidaklah
wajib bagi anak-anak untuk berhaji kecuali ia telah baligh. Namun jika
ia telah berhaji maka hajinya sah sebagaimana yang telah diriwayatkan
Ibnu Abbas ra bahwa Rasulullah r berjumpa dengan seorang berkendaraan
dikawasan Ar-Rauha beliau bersabda: Siapakah kalian? Mereka menjawab:
Kami orang-orang muslim, mereka balik bertanya: Siapa anda? Beliau
menjawab: Saya Rasul Allah. Lalu ada seorang anak gadis yang masih kecil
bertanya: Apakh ini yang disebut haji? Beliau menjawab: Ya dan bagimu
pahala (HR. Ahmad, Muslim, Abu Daud, dan An Nasa dishahihkan oleh At
Tirmidzi). [Kembali ke Menu]
Rangkaian kegiatan ibadah Haji
- Sebelum tanggal 8 Dzulhijjah, calon jamaah haji mulai berbondong untuk melaksanakan Tawaf Haji di Masjid Al Haram, Makkah.
- Calon jamaah haji memakai pakaian Ihram (dua lembar kain tanpa jahitan sebagai pakaian haji), sesuai miqatnya, kemudian berniat haji, dan membaca bacaan Talbiyah, yaitu mengucapkan Labbaikallahumma labbaik labbaika laa syarika laka labbaik. Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk laa syarika laka..
- Tanggal 9 Dzulhijjah, pagi harinya semua calon jamaah haji menuju ke padang Arafah untuk menjalankan ibadah wukuf. Kemudian jamaah melaksanakan ibadah Wukuf, yaitu berdiam diri dan berdoa di padang Arafah hingga Maghrib datang.
- Tanggal 9 Dzulhijjah malam, jamaah menuju ke Muzdalifah untuk mabbit (bermalam) dan mengambil batu untuk melontar jumroh secukupnya.
- Tanggal 9 Dzulhijjah tengah malam (setelah mabbit) jamaah meneruskan perjalanan ke Mina untuk melaksanakan ibadah melontar Jumroh
- Tanggal 10 Dzulhijjah, jamaah melaksanakan ibadah melempar Jumroh sebanyak tujuh kali ke Jumroh Aqobah sebagai simbolisasi mengusir setan. Dilanjutkan dengan tahalul yaitu mencukur rambut atau sebagian rambut.
- Jika jamaah mengambil nafar awal maka dapat dilanjutkan perjalanan ke Masjidil Haram untuk Tawaf Haji (menyelesaikan Haji)
- Sedangkan jika mengambil nafar akhir jamaah tetap tinggal di Mina dan dilanjutkan dengan melontar jumroh sambungan (Ula dan Wustha).
- Tanggal 11 Dzulhijjah, melempar jumrah sambungan (Ula) di tugu pertama, tugu kedua, dan tugu ketiga.
- Tanggal 12 Dzulhijjah, melempar jumrah sambungan (Ula) di tugu pertama, tugu kedua, dan tugu ketiga.
- Jamaah haji kembali ke Makkah untuk melaksanakan Thawaf Wada’ (Thawaf perpisahan) sebelum pulang ke negara masing-masing
[Kembali ke Menu]
- Diawali dengan mandi besar (janabah) sebelum ihram untuk umrah.
- mengenakan pakaian ihram. Untuk lelaki 2 kain yang dijadikan sarung dan selendang, sedangkan untuk wanita memakai pakaian apa saja yang menutup aurat tanpa ada hiasannya dan tidak memakai cadar atau sarung tangan.
- Niat umrah dalam hati dan mengucapkan Labbaika ‘umrotan atau Labbaikallahumma bi’umrotin. Kemudian bertalbiyah dengan dikeraskan suaranya bagi laki-laki dan cukup dengan suara yang didengar orang yang ada di sampingnya bagi wanita, yaitu mengucapkan Labbaikallahumma labbaik labbaika laa syarika laka labbaik. Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk laa syarika laka.
- Sesampai Masjidil Haram menuju ka’bah, lakukan thawaf sebanyak 7 kali putaran.3 putaran pertama jalan cepat dan sisanya jalan biasa. Thowaf diawali dan diakhiri di hajar aswad dan ka’bah dijadikan berada di sebelah kiri. Setiap putaran menuju hajar aswad sambil menyentuhnya dengan tangan kanan dan menciumnya jika mampu dan mengucapkan Bismillahi wallahu akbar. Jika tidak bisa menyentuh dan menciumya, maka cukup memberi isyarat dan berkata Allahu akbar.
- Shalat 2 raka’at di belakang maqam Ibrahim jika bisa atau di tempat lainnya di masjidil haram dengan membaca surat Al-Kafirun pada raka’at pertama dan Al-Ikhlas pada raka’at kedua.
- Selanjutnya Sa’i dengan naik ke bukit Shofa dan menghadap kiblat sambil mengangkat kedua tangan dan mengucapkan Innash shofa wal marwata min sya’aairillah. Abda’u bima bada’allahu bihi (Aku memulai dengan apa yang Allah memulainya). Kemudian bertakbir 3 kali tanpa memberi isyarat dan mengucapkan Laa ilaha illallahu wahdahu laa syarika lahu. Lahul mulku wa lahul hamdu wahuwa ‘alaa kulli syai’in qodiir. Laa ilaha illallahu wahdahu anjaza wa’dahu wa shodaqo ‘abdahu wa hazamal ahzaaba wahdahu 3x. Kemudian berdoa sekehendaknya. Sa’i dilakukan sebanyak 7 kali dengan hitungan berangkat satu kali dan kembalinya dihitung satu kali, diawali di bukit Shofa dan diakhiri di bukit Marwah.
- Mencukur rambut kepala bagi lelaki dan memotongnya sebatas ujung jari bagi wanita.
- Ibadah Umroh selesai
[Kembali ke Menu]
Beberapa hal yang perlu dipersiapkan sebelum menunaikan ibadah Haji
- Membersihkan diri dari dosa dan kesalahan baik langsung kepada Allah SWT. maupun kepada sesama manusia.
- Karena ibadah Haji adalah ibadah fisik, maka perlu mempersiapkan mental untuk mengikuti seluruh rangkaian ibadah haji yang memerlukan stamina tinggi, keikhlasan dan kepasrahan kepada Allah SWT.
- Mempersiapkan biaya, baik selama dalam perjalanan haji, maupun untuk nafkah keluarg yang ditinggalkan.
- Melaksanakan kewajiban-kewajiban yang berhubungan dengan harta kekayaan, seperti zakat, nadzar, hutang, infaq dan shadaqah.
- Melaksanakan janji yang pernah diucapkan.
- Menyelesaikan segala urusan yang berhubungan dengan keluarga yang akan ditinggalkan.7. Memohon do’a restu kepada kedua orang tua (jika masih hidup)
- Mempersiapkan ilmu dan pengetahuan agama, dan mengikuti kegiatan manasik haji.
- Mempersiapkan obat-obatan pribadi selama menjalankan ibadah haji.
- Mempersiapkan beberapa perlengkapan untuk keperluan selama perjalanan ibadah Haji:
Perlengkapan Pria
- Kain Ihram dua stel
- Baju sehari-hari secukupnya
- Ikat pinggang
- Keperluan mandi
Perlengkapan Wanita
- Mukena minimal 2 buah
- Pakaian ihram (rok putih dan mukena atas putih) 2 set
- Pakaian sehari-hari secukupnya
- Kaos kaki secukupnya
Perlengkapan untuk Pria dan Wanita
- Pakaian penghangat
- Selimut
- Sandal jepit
- Sepatu sandal atau sendal gunung
- Obat-obatan pribadi
- Gunting kecil utk Tahallul
- Payung
- Senter kecil (untuk penerangan saat mengambil batu di Musdalifah)
- Kantong kecil untuk menyimpan batu kerikil persiapan melempar jumroh
- Kantong sandal untuk tempat sandal saat di Masjid
- Pelembab atau cream, gunakan untuk tangan dan kaki
- Biaya untuk dam, kurban dsb.
[Kembali ke Menu]
Makkah Al Mukaromah
Di
kota Makkah Al-Mukaromah inilah terdapat Masjidil Haram yang didalamnya
terdapat Ka’bah yang merupakan kiblat ibadah umat Islam sedunia. Dalam
rangkaian perjalanan ibadah haji, Makkah menjadi tempat pembuka dan
penutup ibadah haji.
Padang Arafah
Padang
Arafah terdapat di sebelah timur Kota Makkah. Padang Arafah dikenal
sebagai tempat pusatnya haji, sebagai tempat pelaksanaan ibadah wukuf
yang merupakan rukun haji. Di Padang Arafah juga terdapat Jabal Rahmah
tempat pertama kali pertemuan Nabi Adam dan Hawa. Di luar musim haji,
daerah ini tidak dipakai.
Kota Muzdalifah
Kota
ini tidak jauh dari kota Mina dan Arafah Mota Muzdalifah merupakan
tempat jamaah calon haji melakukan Mabit (bermalam) dan mengambil batu
untuk melontar Jumroh di Kota Mina.
Kota Mina
Kota
Mina merupakan tempat berdirinya tugu (jumrah), yaitu tempat
pelaksanaan melontarkan batu ke tugu (jumrah) sebagai simbolisasi
tindakan nabi Ibrahim ketika mengusir setan. Disana terdapat tiga jumrah
yaitu jumrah Aqabah, Jumrah Ula, dan Jumrah Wustha.
Monday, 10 November 2014
Detik-Detik Kewafatan Rasulullah : cerita palsu yang masyur
Ada sebuah kisah tentang cinta yang sebenar-benar cinta yang dicontohkan Allah melaluï
kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu, walaupun langit telah mulaï menguning, burung-burung gurun
enggan mengepakkan sayap. [Ayat yang pelik! Bukan ayat hadis, melainkan penulis cerita]
Pagi itu, Rasulu Llah dengan suara terbatas memberikan khutbah, “Wahai umat ana, kita
semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka ta`ati dan bertaqwalah kepada-
Nya. Ana wariskan dua perkara kepada kalian, Al Qur'an dan sunnah ana. Barangsiapa mencintaï
sunnah ana, bererti dia mencintaï ana, dan kelak orang-orang yang mencintaï ana akan masuk
syurga bersama-sama ana.” Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulu Llah
yang tenang dan penuh minat menatap sahabatnya satu persatu. [Tidak ada sumber! Rasulu Llah
tidak berkhutbah pada pagi hari kematiannya. Hadis [/ kata-kata] tersebut juga pelik! Perlu
kepada rujukan sebelum boleh diterima]
Abu Bakr menatap mata itu dengan berkaca-kaca, `Umar dadanya naik turun menahan nafas
dan tangisannya. `Usman menghela nafas panjang dan `Ali menundukkan kepalanya dalam-
dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. “Rasulu Llah akan meninggalkan kita
semua,” keluh hati semua sahabat ketika itu. Manusia tercinta itu, hampir selesai menunaikan
tugasnya di dunia. [Ayat yang pelik! Bukan ayat hadis, melainkan penulis cerita]
Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala `Ali dan Fadhal dengan cergas menangkap Rasulu Llah
yang berkeadaan lemah dan goyah ketika turun dari minbar. Pada saat itu, kalau mampu, seluruh
sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu. Matahari kian tinggi, tetapi
pintu rumah Rasulu Llah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulu Llah sedang terbaring
lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas
tidurnya. [Ayat yang pelik! Siapa Fadhal?]
Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. “Bolehkah ana
masuk?” tanyanya. Tetapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk. “Maaflah, ayah ana sedang
demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian dia kembali
menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, “Siapakah
itu wahai anak ana?” “Tak tahulah ayah ana, orang sepertinya baru sekali ini ana melihatnya,”
tutur Fatimah lembut. [Ayat yang pelik! Tidak ada sumber]
Lalu, Rasulu Llah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah
bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang. “Ketahuïlah, dialah yang
menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah
malaku l-maut,” kata Rasulu Llah. [Tidak ada sumber! Setiap kata-kata Rasulu Llah hendaklah
disahihkan!]
Fatimah pun menahan ledakan tangisannya. Malaikat maut datang menghampiri, tetapi
Rasulu Llah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertaïnya. Kemudian dipanggillah
Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia untuk menyambut ruh kekasih Allah
dan penghulu dunia ini. “Jibril, jelaskan apa hak ana nanti di hadapan Allah?” Tanya Rasulu
Llah dengan suara yang amat lemah. “Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah
menanti ruh anta. Semua syurga terbuka lebar menanti kedatangan anta,” kata Jibril. [Tidak ada
sumber! Setiap kata-kata Rasulu Llah hendaklah disahihkan!]
Tetapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulu Llah lega, matanya masih penuh kecemasan.
“Anta tidak senang mendengar khabar ini?” Tanya Jibril lagi. “Khabarkan kepada ana bagaimana
nasib umat ana kelak?”. “Jangan khuatir wahai Rasula Llah, ana pernah mendengar Allah
berkata kepada ana: “Ana haramkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah
berada di dalamnya,” kata Jibril. [Kisah yang pelik! Kisah ini masyhur tetapi tidak ada asas!]
Detik-detik semakin dekat untuk saatnya Malaku l-Maut melakukan tugas. Perlahan ruh
Rasulu Llah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulu Llah bersimbah peluh, urat-urat lehernya
menegang. “Jibril, betapa sakit sakaratu l-maut ini.” Perlahan Rasulu Llah mengaduh. Fatimah
terpejam, `Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam, dan Jibril memalingkan muka.
“Jijikkah anta melihat ana, hingga anta palingkan wajah anta ya Jibril?” Tanya Rasulu Llah
kepada Malaikat penyampai wahyu itu. [Kisah yang pelik! Kisah ini masyhur tetapi tidak ada
asas!]
“Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril. Sebentar
kemudian terdengar Rasulu Llah memekik, kerana sakit yang tidak tertahan lagi. “Ya Allah,
dahsyatnya maut ini, timpakan saja semua seksa maut ini kepada ana, jangan pada umat ana.”
Badan Rasulu Llah mulaï dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar
seakan hendak membisikkan sesuatu, `Ali segera mendekatkan telinganya. [Kisah yang pelik!
Kisah ini masyhur tetapi tidak ada asas!] [Harap semak, macam ada unsur Syi`ah sahaja cerita
ini… Ana belum baca sampai habis lagi cerita ini!]
“Usikum bis-salati, wama malakat aymanukum, peliharalah salat dan peliharalah orang-orang lemah di antara antum.” [Hadis perlu disemak! Diriwayatkan dalam hadis sahih [An-Nasa’iy Al-Kubra/ 7057, sahih], [Ahmad, 26144, sahih], [Musnad `Abd bin Humayd/ 1214, sahih], “Salat, salat, dan apa-apa yang tangan-tangan kanan antum miliki"]
Di luar pintu tangisan mulaï terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah
menutupkan tangan di wajahnya, dan `Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulu Llah
yang mulaï kebiruan. “Ummati, ummati, ummati, (Umat ana, umat ana, umat ana)” Dan,
berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. [Kisah yang pelik! Kisah ini
masyhur tetapi tidak ada asas! Al-Bukhariy dan Muslim [Al-Bukhariy/ 4463, 6348, 6509], [Muslim/ 2444]
meriwayatkan kata-kata terakhir Rasulu Llah ialah Allahumma r-Rafiqa l-A`la]
KOMENTAR `ADLAN
1- Cerita ini masyhur tetapi tidak ada asas. Terlalu banyak tokok-tambah dan penipuan
2- Sila rujuk hadis yang sahih dan kisah sirah yang mu`tabar
KOMENTAR IRWAN
1. Ana nasihatkan saudara penulis, kita sebagai Ahli s-Sunnah, rujuklah hadis-hadis apabila
menulis sesuatu…
Sumber: ad-diyari.com
http://humairagjoy.blogspot.com/2011/08/detik-detik-kewafatan-rasulullah-cerita.html
kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu, walaupun langit telah mulaï menguning, burung-burung gurun
enggan mengepakkan sayap. [Ayat yang pelik! Bukan ayat hadis, melainkan penulis cerita]
Pagi itu, Rasulu Llah dengan suara terbatas memberikan khutbah, “Wahai umat ana, kita
semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka ta`ati dan bertaqwalah kepada-
Nya. Ana wariskan dua perkara kepada kalian, Al Qur'an dan sunnah ana. Barangsiapa mencintaï
sunnah ana, bererti dia mencintaï ana, dan kelak orang-orang yang mencintaï ana akan masuk
syurga bersama-sama ana.” Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulu Llah
yang tenang dan penuh minat menatap sahabatnya satu persatu. [Tidak ada sumber! Rasulu Llah
tidak berkhutbah pada pagi hari kematiannya. Hadis [/ kata-kata] tersebut juga pelik! Perlu
kepada rujukan sebelum boleh diterima]
Abu Bakr menatap mata itu dengan berkaca-kaca, `Umar dadanya naik turun menahan nafas
dan tangisannya. `Usman menghela nafas panjang dan `Ali menundukkan kepalanya dalam-
dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. “Rasulu Llah akan meninggalkan kita
semua,” keluh hati semua sahabat ketika itu. Manusia tercinta itu, hampir selesai menunaikan
tugasnya di dunia. [Ayat yang pelik! Bukan ayat hadis, melainkan penulis cerita]
Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala `Ali dan Fadhal dengan cergas menangkap Rasulu Llah
yang berkeadaan lemah dan goyah ketika turun dari minbar. Pada saat itu, kalau mampu, seluruh
sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu. Matahari kian tinggi, tetapi
pintu rumah Rasulu Llah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulu Llah sedang terbaring
lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas
tidurnya. [Ayat yang pelik! Siapa Fadhal?]
Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. “Bolehkah ana
masuk?” tanyanya. Tetapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk. “Maaflah, ayah ana sedang
demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian dia kembali
menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, “Siapakah
itu wahai anak ana?” “Tak tahulah ayah ana, orang sepertinya baru sekali ini ana melihatnya,”
tutur Fatimah lembut. [Ayat yang pelik! Tidak ada sumber]
Lalu, Rasulu Llah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah
bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang. “Ketahuïlah, dialah yang
menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah
malaku l-maut,” kata Rasulu Llah. [Tidak ada sumber! Setiap kata-kata Rasulu Llah hendaklah
disahihkan!]
Fatimah pun menahan ledakan tangisannya. Malaikat maut datang menghampiri, tetapi
Rasulu Llah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertaïnya. Kemudian dipanggillah
Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia untuk menyambut ruh kekasih Allah
dan penghulu dunia ini. “Jibril, jelaskan apa hak ana nanti di hadapan Allah?” Tanya Rasulu
Llah dengan suara yang amat lemah. “Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah
menanti ruh anta. Semua syurga terbuka lebar menanti kedatangan anta,” kata Jibril. [Tidak ada
sumber! Setiap kata-kata Rasulu Llah hendaklah disahihkan!]
Tetapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulu Llah lega, matanya masih penuh kecemasan.
“Anta tidak senang mendengar khabar ini?” Tanya Jibril lagi. “Khabarkan kepada ana bagaimana
nasib umat ana kelak?”. “Jangan khuatir wahai Rasula Llah, ana pernah mendengar Allah
berkata kepada ana: “Ana haramkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah
berada di dalamnya,” kata Jibril. [Kisah yang pelik! Kisah ini masyhur tetapi tidak ada asas!]
Detik-detik semakin dekat untuk saatnya Malaku l-Maut melakukan tugas. Perlahan ruh
Rasulu Llah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulu Llah bersimbah peluh, urat-urat lehernya
menegang. “Jibril, betapa sakit sakaratu l-maut ini.” Perlahan Rasulu Llah mengaduh. Fatimah
terpejam, `Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam, dan Jibril memalingkan muka.
“Jijikkah anta melihat ana, hingga anta palingkan wajah anta ya Jibril?” Tanya Rasulu Llah
kepada Malaikat penyampai wahyu itu. [Kisah yang pelik! Kisah ini masyhur tetapi tidak ada
asas!]
“Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril. Sebentar
kemudian terdengar Rasulu Llah memekik, kerana sakit yang tidak tertahan lagi. “Ya Allah,
dahsyatnya maut ini, timpakan saja semua seksa maut ini kepada ana, jangan pada umat ana.”
Badan Rasulu Llah mulaï dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar
seakan hendak membisikkan sesuatu, `Ali segera mendekatkan telinganya. [Kisah yang pelik!
Kisah ini masyhur tetapi tidak ada asas!] [Harap semak, macam ada unsur Syi`ah sahaja cerita
ini… Ana belum baca sampai habis lagi cerita ini!]
“Usikum bis-salati, wama malakat aymanukum, peliharalah salat dan peliharalah orang-orang lemah di antara antum.” [Hadis perlu disemak! Diriwayatkan dalam hadis sahih [An-Nasa’iy Al-Kubra/ 7057, sahih], [Ahmad, 26144, sahih], [Musnad `Abd bin Humayd/ 1214, sahih], “Salat, salat, dan apa-apa yang tangan-tangan kanan antum miliki"]
Di luar pintu tangisan mulaï terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah
menutupkan tangan di wajahnya, dan `Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulu Llah
yang mulaï kebiruan. “Ummati, ummati, ummati, (Umat ana, umat ana, umat ana)” Dan,
berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. [Kisah yang pelik! Kisah ini
masyhur tetapi tidak ada asas! Al-Bukhariy dan Muslim [Al-Bukhariy/ 4463, 6348, 6509], [Muslim/ 2444]
meriwayatkan kata-kata terakhir Rasulu Llah ialah Allahumma r-Rafiqa l-A`la]
KOMENTAR `ADLAN
1- Cerita ini masyhur tetapi tidak ada asas. Terlalu banyak tokok-tambah dan penipuan
2- Sila rujuk hadis yang sahih dan kisah sirah yang mu`tabar
KOMENTAR IRWAN
1. Ana nasihatkan saudara penulis, kita sebagai Ahli s-Sunnah, rujuklah hadis-hadis apabila
menulis sesuatu…
Sumber: ad-diyari.com
http://humairagjoy.blogspot.com/2011/08/detik-detik-kewafatan-rasulullah-cerita.html
SAAT KEWAFATAN RASULULLAH SAW YANG SEBENAR..
Berikut di bawah yang diceritakan ini merupakan SAAT KEWAFATAN RASULULLAH SAW YANG SEBENAR..
Kewafatan Rasulullah SAW
Rasulullah SAW jatuh gering tiga bulan setelah baginda pulang ke Madinah setelah menunaikan Haji Terakhir*1.
Kegeringan Rasulullah SAW di dalam rumah Maymunah*2 dan berlarutan selama 10 hari*3. Rasulullah SAW wafat pada hari Isnin, dua belas haribulan Rabiulawal*4, ketika baginda berusia 63 tahun*5.
Perkaranya sahih bahawa Rasulullah SAW merungut semenjak pada tahun ketujuh Hijrah, sebaik sahaja setelah penaklukkan Khaybar, apabila baginda memakan sketul daging beracun yang diberikan kepada isteri baginda oleh Salam ibn Mashkan, seorang Yahudi.
Walaupun Rasulullah SAW telah meludahnya keluar dari mulut baginda dan tidak menelan daging tersebut, racun itu masih berbisa dalam diri baginda*6. Rasulullah SAW memberitahu isteri-isteri baginda bahawa baginda ingin dijagai dan dirawati di rumah ‘Aishah (Umm al Mu’minun). *7
Aishah seringkali menyapu peluh-peluh baginda dengan tangan beliau sendiri kerana kerahmatan ketika membaca surah-surah Mu’awwadhatayn, dua surah terakhir dalam al- Quran. *8
“Bolehkah aku menulis sesuatu untuk kamu supaya kamu tidak akan tersesat?”
Mereka masih belum berkeputusan sama ada dikalangan sahabat hendak mencapai bahan- bahan penulisan, dan sahabat yang lainnya khuatir jika perbuatan ini akan mengganggu kepada Rasulullah SAW. Terdapat pembuktian untuk menyokong kenyataan ini yang meyakini bahawa untuk membawa bahan-bahan penulisan bukanlah suatu perintah mustahak sebagai satu pendirian.
Apabila Umar ra berkata, “Kitab Allah SWT (al Quran) memadai untuk kita,” Rasulullah SAW tidak mengulangi pendirian ini. Jikalah sesuatu perkara wajib yang hendak disampaikan baginda, maka baginda sudah pasti menyatakannya kepada mereka, seperti mana Rasulullah SAW menyatakan ketika kegeringan ini, secara lisannya supaya mereka membuang segala penyembahan berhala di Semenanjung Arab dan melayani delegasi-delegasi(orang luar) dengan penuh kehormatan dan baik hati*9 .
Rasulullah SAW memanggil Fatimah ra, dan mengatakan sesuatu secara rahsia, dan Fatimah ra menangis.Kemudian Rasulullah SAW memanggil Fatimah dan menyatakan sesuatu secara rahsia, dan Fatimah ketawa. Setelah kewafatan Rasulullah SAW , Fatimah ra memberitahu bahawa baginda telah memberitahu beliau bahawa baginda akan wafat(meninggal dunia) , sebab ini beliau(Fatimah) telah menangis; kemudian baginda memberitahu beliau, bahawa beliau akan menjadi orang pertama dalam keluarga yang akan menyertai baginda, maka Fatimah ketawa*10. Perkara ini telah terbukti . Ia suatu kelebihan dan tanda-tanda kerasulan.
Kegeringan Rasulullah SAW menjadi berat dan telah menghalang baginda daripada keluar dari tempat berehat untuk mengimamkan orang- orang Islam dalam solat. Rasulullah SAW bersabda,
“Beritahu Abu Bakar ra untuk mengimamkan mereka di dalam solat.”
Aishah menegah baginda daripada melakukannya, kerana beliau khuatir orang-orang Islam akan menganggap bapa beliau sebagai suatu alamat yang buruk. Fatimah ra berkata,
“Abu Bakar ra seorang lelaki baik hati, suara beliau lemah lembut dan menangis-nangis apabila mereka membaca ayat-ayat al-Quran*11.
Khutbah terakhir Rasulullah SAW telah disampaikan lima hari sebelum kewafatan. Di dalam khutbah Rasulullah SAW ini, baginda bersabda,
“Terdapat seorang hamba Allah SWT yang telah ditunjukkan dunia ini dan kecantikannya, tetapi telah memilih Akhirat.”
Abu Bakar ra memahami bahawa Rasulullah SAW bermaksudkan beliau, maka beliau menangis. Orang- orang Islam melihat beliau dengan tergamam, sebab mereka tidak memahami pengertian begitu*14.
Solat al Fajr, pada hari kewafatan Rasulullah SAW, ketika ia didirikan, Rasulullah SAW telah menarik tirai bilik Aishah dan melihat orang-orang Islam yangs edang dalam saf untuk solat.
Kemudian baginda tersenyum dan ketawa, seakan-akan baginda menyatakan selamat tinggal kepada mereka. Orang-orang Islam telah dilanda kegembiraan kerana Rasulullah SAW telah keluar dari bilik baginda. Abu Bakar ra telah berundur ke belakang, kerana beliau menyangka bahawa Rasulullah saw akan keluar untuk mengimamkan solat tetapi Rasulullah SAW memberikan isyarat dengan tangan untuk menyudahkan solat tersebut. Kemudian baginda masuk semula ke biliknya dan menarik tirai.
Fatimah memasuki dan berkata
“Bagaimanakah sakitnya bapa aku!”
Rasulullah SAW bersabda,
“Bapa kamu tidak akan menderita sebarang kesakitan setelah hari ini.” *15
Usamah ibn Zayd memasuki bilik baginda, dan Rasulullah SAW berdoa dengan senyapnya untuk beliau dengan suatu isyarat; baginda tidak boleh berkata-kata kerana kegeringan yang begitu berat. *16
Apabila kematian tiba, baginda sedang bersandar di dada Aishah ra. Beliau(Aishah ra) telah mengambil “siwak”(sugi) daripada saudara lelakinya ‘Abd al Rahman, dan mengunyah hujungnya dan Rasulullah SAW telah mencuci gigi baginda dengannya. *17 .
“La ilaha illa Allah, wujudnya keazaban maut.” *18
Suara Rasulullah SAW menjadi parau ketika baginda sedang bersabda:
“ Dalam saksi dan di sisi orang-orang Islam yang dikurniakan kemuliaan Allah SWT..”(Surah al Nisa’ [4:69]*19dan, “Sesungguhnya Penghuni Termulia di Syurga.”
Kemudian Aishah ra menyedari bahawa Rasulullah SAW telah diberikan pilihan, dan baginda memilih para sahabat yang Terpuji. *20
Rasulullah SAW hanyalah seorang nabi dan rasul, pesuruhNya: bergitu ramai nabi-nabi dan rasul yang telah wafat sebelum baginda. Jika baginda wafat atau terbunuh, apakah kamu juga turut meninggalkan Islam?
Dan Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul yang sudahpun didahului oleh beberapa orang Rasul (yang telah mati atau terbunuh). Jika demikian, kalau ia pula mati atau terbunuh, (patutkah) kamu berbalik (berpaling tadah menjadi kafir)? Dan (ingatlah), sesiapa yang berbalik (menjadi kafir) maka ia tidak akan mendatangkan mudarat kepada Allah sedikitpun; dan (sebaliknya) Allah akan memberi balasan pahala kepada orang-orang yang bersyukur (akan nikmat Islam yang tidak ada bandingannya itu). (Surah ali ‘Imran [3:144])
Kemudian, orang-orang Islam menjadi senyap. “Umar melutut ke bumi, kerana kaki-kaki beliau tidak mampu lagi menyanggah Abu Bakar ra. Seakan –akan mereka tidak pernah mendengar ayat ini sehingga ketika ini. *21
Fatimah ra berkata
“Wahai bapaku, baginda menyahut panggilan Tuhannya, wahai bapaku, tempat tinggal baginda ialah taman syurga, wahai bapaku, kami mengumumkan kewafatannya kepada Jibril. *22
Semoga Allah SWT mengurniakan kesejahteraan dan KerahmatanNya kepada RasulNya dan keluarga baginda.
“Segala puji-pujian untuk Allah SWT, Seru Sekalian Alam”
Wa al Hamdu li Allah Rabb al ‘Alamin.
Assalamualaikum.
Kewafatan Rasulullah SAW
Rasulullah SAW jatuh gering tiga bulan setelah baginda pulang ke Madinah setelah menunaikan Haji Terakhir*1.
Kegeringan Rasulullah SAW di dalam rumah Maymunah*2 dan berlarutan selama 10 hari*3. Rasulullah SAW wafat pada hari Isnin, dua belas haribulan Rabiulawal*4, ketika baginda berusia 63 tahun*5.
Perkaranya sahih bahawa Rasulullah SAW merungut semenjak pada tahun ketujuh Hijrah, sebaik sahaja setelah penaklukkan Khaybar, apabila baginda memakan sketul daging beracun yang diberikan kepada isteri baginda oleh Salam ibn Mashkan, seorang Yahudi.
Walaupun Rasulullah SAW telah meludahnya keluar dari mulut baginda dan tidak menelan daging tersebut, racun itu masih berbisa dalam diri baginda*6. Rasulullah SAW memberitahu isteri-isteri baginda bahawa baginda ingin dijagai dan dirawati di rumah ‘Aishah (Umm al Mu’minun). *7
Aishah seringkali menyapu peluh-peluh baginda dengan tangan beliau sendiri kerana kerahmatan ketika membaca surah-surah Mu’awwadhatayn, dua surah terakhir dalam al- Quran. *8
Rujukan *:Ketika kematian semakin hampir kerana kegeringan baginda bertambah-tambah, baginda bersabda kepada sahabat,
- Ibn Kathir mengatakan bahawa Rasulullah SAW wafat 81 hari setelah Hari Haji Besar( al Bidayah wa al Nihayah, 5/101)
- Ibn Hajar berkata bahawa ini laporan yang telah dipersetujui. Laporan lain yang berbeza mengatakan bahawa baginda gering ketika di rumah Zainab bt Jahsh atau Rihanah. Fath al Bari, 8/129
- Sulayman al Timi menegaskan perkara ini. Al Bayhaqi meriwayatkannya dengan satu isnad sahih. Lebih tepat 13 hari. Ibn Hajar, Fath al Bari, 8/129
- Al Hafiz ibn Hajar berpegang kepada pendirian Abu Mikhnaf bahawa Rasulullah SAW wafat pada 12 R’ Awal dan lain-lainnya tersilap menambah “ashar”(sepuluh) kepada “thanin” (dua). Ibn Hajar, Fath al Bari, 8/130
- Sahih al Bukhari, (Ibn Hajar, Fath al Bari,8/150)
- Ibid, 8/131
- Ibid,8/27, Ahmad, Al Musnad,(al Fath al Rabbanu, 21/226), dengan satu isnad sahih.
- Sahih al Bukhari(Ibn Hajar, Fath al Bari,8/131)
“Bolehkah aku menulis sesuatu untuk kamu supaya kamu tidak akan tersesat?”
Mereka masih belum berkeputusan sama ada dikalangan sahabat hendak mencapai bahan- bahan penulisan, dan sahabat yang lainnya khuatir jika perbuatan ini akan mengganggu kepada Rasulullah SAW. Terdapat pembuktian untuk menyokong kenyataan ini yang meyakini bahawa untuk membawa bahan-bahan penulisan bukanlah suatu perintah mustahak sebagai satu pendirian.
Apabila Umar ra berkata, “Kitab Allah SWT (al Quran) memadai untuk kita,” Rasulullah SAW tidak mengulangi pendirian ini. Jikalah sesuatu perkara wajib yang hendak disampaikan baginda, maka baginda sudah pasti menyatakannya kepada mereka, seperti mana Rasulullah SAW menyatakan ketika kegeringan ini, secara lisannya supaya mereka membuang segala penyembahan berhala di Semenanjung Arab dan melayani delegasi-delegasi(orang luar) dengan penuh kehormatan dan baik hati*9 .
Rasulullah SAW memanggil Fatimah ra, dan mengatakan sesuatu secara rahsia, dan Fatimah ra menangis.Kemudian Rasulullah SAW memanggil Fatimah dan menyatakan sesuatu secara rahsia, dan Fatimah ketawa. Setelah kewafatan Rasulullah SAW , Fatimah ra memberitahu bahawa baginda telah memberitahu beliau bahawa baginda akan wafat(meninggal dunia) , sebab ini beliau(Fatimah) telah menangis; kemudian baginda memberitahu beliau, bahawa beliau akan menjadi orang pertama dalam keluarga yang akan menyertai baginda, maka Fatimah ketawa*10. Perkara ini telah terbukti . Ia suatu kelebihan dan tanda-tanda kerasulan.
Kegeringan Rasulullah SAW menjadi berat dan telah menghalang baginda daripada keluar dari tempat berehat untuk mengimamkan orang- orang Islam dalam solat. Rasulullah SAW bersabda,
“Beritahu Abu Bakar ra untuk mengimamkan mereka di dalam solat.”
Aishah menegah baginda daripada melakukannya, kerana beliau khuatir orang-orang Islam akan menganggap bapa beliau sebagai suatu alamat yang buruk. Fatimah ra berkata,
“Abu Bakar ra seorang lelaki baik hati, suara beliau lemah lembut dan menangis-nangis apabila mereka membaca ayat-ayat al-Quran*11.
Rujukan *:Tetapi Rasulullah SAW mendesaknya juga. Maka, Abu Bakar ra keluar dari tempat berehat Rasulullah SAW dan mengimamkan mereka dalam solat*12. Rasulullah SAW keluar dari bilik baginda Cuma sekali, dibantu oleh Al Abbas, dan Ali, mengimamkan orang-orang Islam dalam solat dan menyampaikan ucapan memuji Abu Bakar ra dan menerangkan kelebihan-kelebihan beliau. Rasulullah SAW menyatakan bahawa Allah SWT telah memberikan beliau(Abu Bakar ra) pilihan samaada memilih dunia ini atau Akhirat, dan beliau telah memilih Akhirat*13.
9. Ibid, 8/132
10. Ibid, 8/135
11. Ibn Hisyam, Sirah, 4/330, dengan satu isnad sahih, Ibn Kathir, al Bidayah wa al Nihayah, 5/233
Khutbah terakhir Rasulullah SAW telah disampaikan lima hari sebelum kewafatan. Di dalam khutbah Rasulullah SAW ini, baginda bersabda,
“Terdapat seorang hamba Allah SWT yang telah ditunjukkan dunia ini dan kecantikannya, tetapi telah memilih Akhirat.”
Abu Bakar ra memahami bahawa Rasulullah SAW bermaksudkan beliau, maka beliau menangis. Orang- orang Islam melihat beliau dengan tergamam, sebab mereka tidak memahami pengertian begitu*14.
Solat al Fajr, pada hari kewafatan Rasulullah SAW, ketika ia didirikan, Rasulullah SAW telah menarik tirai bilik Aishah dan melihat orang-orang Islam yangs edang dalam saf untuk solat.
Kemudian baginda tersenyum dan ketawa, seakan-akan baginda menyatakan selamat tinggal kepada mereka. Orang-orang Islam telah dilanda kegembiraan kerana Rasulullah SAW telah keluar dari bilik baginda. Abu Bakar ra telah berundur ke belakang, kerana beliau menyangka bahawa Rasulullah saw akan keluar untuk mengimamkan solat tetapi Rasulullah SAW memberikan isyarat dengan tangan untuk menyudahkan solat tersebut. Kemudian baginda masuk semula ke biliknya dan menarik tirai.
Fatimah memasuki dan berkata
“Bagaimanakah sakitnya bapa aku!”
Rasulullah SAW bersabda,
“Bapa kamu tidak akan menderita sebarang kesakitan setelah hari ini.” *15
Usamah ibn Zayd memasuki bilik baginda, dan Rasulullah SAW berdoa dengan senyapnya untuk beliau dengan suatu isyarat; baginda tidak boleh berkata-kata kerana kegeringan yang begitu berat. *16
Apabila kematian tiba, baginda sedang bersandar di dada Aishah ra. Beliau(Aishah ra) telah mengambil “siwak”(sugi) daripada saudara lelakinya ‘Abd al Rahman, dan mengunyah hujungnya dan Rasulullah SAW telah mencuci gigi baginda dengannya. *17 .
Rujukan *:Rasulullah SAW dalam saat kewafatan memasukkan tangan baginda ke dalam sebuah bekas air, dan menyapu mukanya, sambil bersabda,
12. Ibn Kathir,op .cit, 5/233
13. Sahih Bukhari, Ibn Hajar, Fath al Bari, 8/27. Lihat juga Ahmad, al Musnad al Fath al rabbani, 21/231; Ibn Kathir, al Bidayah wa al Nihayah, 5/229-230
14. Ahmad, Musnad(al Fath al Bari, 21/222,catatan nota kaki no 3). Turkat al Nabi, yang diriwayatkan oleh al Bukhari, Muslim, Ahmad dan al Bayhaqi, dengan satu isnad orang-orang thiqah(soleh) tetapi mursal.
15. Sahih al Bukhari (Ibn Hajar, Fath al Bari, 8/149)
16. Ibn Hisyam, Sirah, 4/329 dengan satu isnad sahih
17. Sahih al Bukhari (Fath al Bari, 8/138)
“La ilaha illa Allah, wujudnya keazaban maut.” *18
Suara Rasulullah SAW menjadi parau ketika baginda sedang bersabda:
“ Dalam saksi dan di sisi orang-orang Islam yang dikurniakan kemuliaan Allah SWT..”(Surah al Nisa’ [4:69]*19dan, “Sesungguhnya Penghuni Termulia di Syurga.”
Kemudian Aishah ra menyedari bahawa Rasulullah SAW telah diberikan pilihan, dan baginda memilih para sahabat yang Terpuji. *20
Rasulullah SAW hanyalah seorang nabi dan rasul, pesuruhNya: bergitu ramai nabi-nabi dan rasul yang telah wafat sebelum baginda. Jika baginda wafat atau terbunuh, apakah kamu juga turut meninggalkan Islam?
Dan Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul yang sudahpun didahului oleh beberapa orang Rasul (yang telah mati atau terbunuh). Jika demikian, kalau ia pula mati atau terbunuh, (patutkah) kamu berbalik (berpaling tadah menjadi kafir)? Dan (ingatlah), sesiapa yang berbalik (menjadi kafir) maka ia tidak akan mendatangkan mudarat kepada Allah sedikitpun; dan (sebaliknya) Allah akan memberi balasan pahala kepada orang-orang yang bersyukur (akan nikmat Islam yang tidak ada bandingannya itu). (Surah ali ‘Imran [3:144])
Kemudian, orang-orang Islam menjadi senyap. “Umar melutut ke bumi, kerana kaki-kaki beliau tidak mampu lagi menyanggah Abu Bakar ra. Seakan –akan mereka tidak pernah mendengar ayat ini sehingga ketika ini. *21
Fatimah ra berkata
“Wahai bapaku, baginda menyahut panggilan Tuhannya, wahai bapaku, tempat tinggal baginda ialah taman syurga, wahai bapaku, kami mengumumkan kewafatannya kepada Jibril. *22
Semoga Allah SWT mengurniakan kesejahteraan dan KerahmatanNya kepada RasulNya dan keluarga baginda.
“Segala puji-pujian untuk Allah SWT, Seru Sekalian Alam”
Wa al Hamdu li Allah Rabb al ‘Alamin.
Rujukan *:Tidak kira siapa yang mengajarmu ttg agama itu adalah Tok guru, mursyid sekalipun..sebagai seorang islam jdilah pengkaji agamamu sndri..rujuklah kembali..dan berkali2..Tegakkan yang HAK tinggalkan yang BATIL
18. Ibid, 8/144
19. Ibid, 8/136
20. Ibid, Ibn Hisyam,Sirah, 4/329, dengan satu isnad sahih.
21. Sahih al Bukhari (Fath al Bari, 8/45)
22.Ibid, 8/149
Assalamualaikum.
Saturday, 27 September 2014
Subscribe to:
Posts (Atom)


























